Solusiindonesia.com — Stadion Gajayana yang seharusnya bersolek merayakan satu abad usianya, kini justru berselimut duka mendalam. Di atas rumput yang menjadi saksi bisu perjalanan kariernya, legenda sekaligus asisten pelatih Arema FC, Kuncoro, mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu sore.
Kepergian sosok yang akrab disapa “Cak Kun” ini menjadi pukulan hebat bagi keluarga besar Arema FC, Aremania, serta kancah sepak bola nasional. Ia meninggal dunia akibat serangan jantung tepat di pinggir lapangan—tempat yang selama ini ia sebut sebagai rumah kedua.
Dedikasi Terakhir di Lapangan Hijau
Sebelum tragedi memilukan itu terjadi, Kuncoro sempat menunjukkan semangat luar biasa dalam laga charity peringatan HUT 100 Tahun Stadion Gajayana. Bermain di babak pertama, ia tampak menikmati momen reuni bersama rekan-rekan seperjuangannya seperti Siswantoro, Hermawan, dan Doni Suherman.
Nostalgia yang ia suguhkan sore itu ternyata menjadi persembahan terakhir. Tak ada yang menyangka bahwa senyum hangat dan sentuhan bolanya di babak pertama adalah pamitannya kepada publik sepak bola Malang.
Detik-Detik Mencekam di Bench Pemain
Suasana ceria mendadak berubah menjadi kepanikan saat memasuki jeda pertandingan. Usai bermain di babak pertama, Kuncoro yang sedang beristirahat di bangku cadangan tiba-tiba kolaps dan tak sadarkan diri.
Tim medis segera melakukan tindakan darurat berupa resusitasi jantung paru (RJP) di lokasi. Meski sempat dilarikan ke RSUD Saiful Anwar (RSSA) Malang menggunakan ambulans, takdir berkata lain. Sang legenda dinyatakan meninggal dunia, meninggalkan duka yang merambat cepat ke seluruh penjuru tanah air.
“Pulang” di Rumah yang Membesarkannya
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, mengungkapkan rasa kehilangan yang tak terhingga. Baginya, ada suratan takdir yang begitu emosional di balik kepergian Kuncoro di Stadion Gajayana.
“Kami sangat terpukul. Cak Kun memulai mimpi profesionalnya di Stadion Gajayana, dan hari ini Allah memanggilnya pulang di stadion yang sama, tepat di momen 100 tahun tempat ini. Beliau pergi saat sedang bahagia, berkumpul dengan sahabat-sahabat lamanya,” tutur Yusrinal dengan nada getir.
Warisan Loyalitas yang Abadi
Bagi Arema FC, Kuncoro bukan sekadar pelatih atau mantan pemain. Ia adalah simbol loyalitas. Sosoknya yang humoris namun tegas telah menginspirasi banyak generasi pemain di Malang.
Kini, tribun Gajayana akan terasa lebih sepi tanpa kehadiran suaranya. Namun, dedikasi dan cinta tulusnya untuk “Singo Edan” akan tetap hidup, mengakar kuat dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Selamat jalan, Cak Kun. Loyalitasmu abadi di hati kami.








