Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Malang Raya

HUT ke-51 Tugu Tirta Menyatukan Energi Malang Raya

×

HUT ke-51 Tugu Tirta Menyatukan Energi Malang Raya

Sebarkan artikel ini
Tugu Tirta Kota Malang genap berusia 51 tahun dengan membawa tagline “51nergi untuk Kemajuan Tugu Tirta" (foto istimewa).

Solusiindonesia.com – Sore itu, halaman Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang terasa berbeda. Bukan sekadar perayaan ulang tahun, melainkan sebuah perjumpaan penting yang mempertemukan para pemangku kebijakan Malang Raya dalam satu semangat yang sama: menjaga air sebagai sumber kehidupan. Kamis (18/12), Tugu Tirta genap berusia 51 tahun dengan membawa tagline “51nergi untuk Kemajuan Tugu Tirta.”

Direktur Utama Perumda Tugu Tirta Kota Malang, Priyo Sudibyo, membuka peringatan tersebut dengan pesan yang lugas namun penuh makna. Baginya, ulang tahun kali ini bukan hanya tentang angka, melainkan tentang energi kolaborasi yang terus dirawat.

“Kita membangun sinergi, kebersamaan, dan kolaborasi bukan hanya untuk Kota Malang, tetapi juga Kabupaten Malang dan Kota Batu. Ini untuk masyarakat Malang Raya,” ucapnya.

Semangat itu tak berhenti pada pidato. Sejak awal November, Tugu Tirta telah memulai langkah kecil namun berdampak besar: mengajak seluruh karyawan meninggalkan plastik sekali pakai dan beralih menggunakan tumbler. Mikroplastik, yang kerap luput dari perhatian, menjadi perhatian serius perusahaan daerah ini.

“Di Tugu Tirta sudah tidak ada lagi plastik sekali pakai. Semua karyawan wajib membawa tumbler. Itu sebabnya, suvenir HUT tahun ini pun berupa tumbler,” jelas Priyo.

Langkah lain diwujudkan melalui penanaman 142 pohon di sekitar sumber-sumber mata air, mulai dari Sumber Karangan, Sumber Sari, hingga Sumber Binangun. Bahkan, pada puncak peringatan HUT, karangan bunga sengaja ditiadakan. Sebagai gantinya, para tamu membawa bibit tanaman yang kelak akan ditanam kembali di kawasan sumber mata air.

Di tengah suasana hangat itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyebut momen ini sebagai catatan sejarah. Untuk pertama kalinya, kepala daerah dari tiga wilayah hadir bersama di Tugu Tirta—sebuah simbol bahwa air memang tak mengenal batas administratif.

“Kota Malang tidak bisa dilepaskan dari Kabupaten Malang dan Kota Batu. Kalau kita bicara air, kita bicara Malang Raya. Hari ini kita duduk bersama, satu meja, dengan satu komitmen,” tuturnya.

Ia menambahkan, sinergi yang terbangun selama ini bukan sekadar seremoni, tetapi diwujudkan melalui komunikasi intens dan penyelesaian persoalan lintas wilayah secara cepat—bahkan sering kali cukup lewat telepon atau secangkir kopi.

Nada serupa disampaikan Bupati Malang H. Sanusi. Menurutnya, peringatan HUT ke-51 Tugu Tirta menjadi bukti bahwa kolaborasi tiga pemerintahan bukan lagi wacana.

“Air di Kota Malang bersumber dari tiga daerah. Maka menjaga sumber air adalah tanggung jawab bersama, demi kepentingan kemanusiaan,” ujarnya singkat namun tegas.

Sementara itu, dari arah barat Malang Raya, Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto mengingatkan bahwa menjaga air berarti menjaga masa depan. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara ekologi dan ekonomi.

“Jangan meninggalkan air mata, tetapi tinggalkan sumber mata air. Menanam pohon adalah investasi jangka panjang,” katanya, sembari mengajak seluruh pihak untuk terus merawat kawasan resapan, khususnya di Kota Batu.

Peringatan HUT ke-51 Tugu Tirta pun berakhir bukan dengan gemerlap pesta, melainkan dengan pesan sederhana namun kuat: air adalah kehidupan, dan kehidupan hanya bisa dijaga dengan sinergi. Di usia lebih dari setengah abad, Tugu Tirta memilih merayakan ulang tahunnya dengan energi kolaborasi—energi yang mengalir, seperti air, ke seluruh Malang Raya.

Image Slide 1