Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Peristiwa

Dua Korban Pesawat TR 42-500 Ditemukan, SAR Lanjutkan Penyisiran Jurang Gunung Bulusaraung

×

Dua Korban Pesawat TR 42-500 Ditemukan, SAR Lanjutkan Penyisiran Jurang Gunung Bulusaraung

Sebarkan artikel ini
Proses evakuasi korban pesawat ATR 42-500 oleh team sar gabungan dari lereng gunung Bulusaraung / foto: tangkapan layar x

Solusiindonesia.com — Pesawat carter jenis ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, masih dalam tahap operasi pencarian dan evakuasi korban.

Tim SAR gabungan terus melanjutkan upaya pencarian terhadap para korban kecelakaan yang terjadi pada Sabtu pekan lalu. Hingga Rabu (21/01/2025)

Berdasarkan manifes, pesawat tersebut mengangkut 7 awak penerbangan dan 3 penumpang. Dari total 10 orang di dalam pesawat, dua korban telah ditemukan, sementara delapan korban lainnya masih dalam pencarian.

Dua korban yang ditemukan berada di dasar jurang. Satu korban telah berhasil dievakuasi ke rumah sakit, sedangkan satu korban lainnya masih dalam proses pengangkatan dari lereng gunung.

Direktur Operasi Basarnas RI, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, menyampaikan bahwa fokus operasi SAR hari ini adalah menyelesaikan evakuasi satu korban yang masih berada di lokasi serta melanjutkan pencarian terhadap delapan korban lainnya.

“Kami juga berupaya menggunakan helikopter dalam operasi besok, dengan catatan kondisi cuaca memungkinkan. Sejak siang tadi juga telah dilakukan operasi modifikasi cuaca, dan rencananya akan kembali dilaksanakan besok pagi,” jelasnya di posko DVI Polda Sulsel.

Yudhi berharap kondisi cuaca cerah pada pagi hingga siang hari dapat membantu mempercepat proses pencarian dan evakuasi. Ia menekankan pentingnya penyelesaian operasi ini sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan.

Korban pertama yang ditemukan berjenis kelamin laki-laki, ditemukan pada Minggu (18/1) di kedalaman sekitar 200 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.

Sementara korban kedua berjenis kelamin perempuan ditemukan pada Senin (19/1), di jurang dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak gunung.
Jenazah korban perempuan tersebut berhasil dievakuasi dan tiba di RS Bhayangkara Makassar pada Selasa (20/1) sekitar pukul 22.38 WITA.

Yudhi mengatakan proses evakuasi korban kedua memerlukan waktu hampir dua hari.

“Ini korban kedua yang kita temukan. Hampir dua hari lebih kami berusaha mengangkat korban ini ke puncak gunung,” kata Yudhi.

Ia menjelaskan bahwa medan ekstrem serta cuaca buruk menjadi kendala utama dalam proses evakuasi. Hujan deras yang terus mengguyur kawasan Gunung Bulusaraung sejak korban ditemukan memperlambat pergerakan tim.

“Korban baru bisa sampai di puncak gunung sekitar pukul 17.15 WITA. Kondisi medan sangat berat, ditambah hujan deras yang terus mengguyur lokasi,” ungkapnya.

Setelah berhasil mencapai puncak, jenazah korban kemudian dibawa melalui jalur darat menuju posko taktis di Desa Tompo Bulu, sebelum akhirnya diserahkan ke RS Bhayangkara Makassar.

“Sampai dengan tadi, sekitar pukul 22.45 WITA, jenazah kami serahkan ke tim DVI untuk dilanjutkan proses identifikasi,” ujarnya.

Sementara itu, korban pertama yang berjenis kelamin laki-laki hingga kini masih dalam proses evakuasi. Menurut Yudhi, lokasi korban berada di kedalaman dengan tingkat kesulitan medan yang hampir sama.

“Kami berharap secepatnya korban yang satu ini juga bisa sampai ke rumah sakit untuk dilakukan identifikasi,” katanya.

Dalam proses evakuasi korban pertama, tim SAR gabungan melakukan teknik rappelling di area yang tidak jauh dari titik jatuhnya pesawat. Sebanyak 10 personel diturunkan ke dasar jurang untuk melakukan penyisiran.

Tim menyusuri jalur air sambil menelusuri serpihan pesawat sejauh kurang lebih 200 meter ke arah bawah. Salah satu rescuer Basarnas Makassar, Rusmadi, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca semakin memburuk selama proses evakuasi yang berlangsung sekitar tiga jam.

Hujan deras, kabut tebal, serta suhu dingin membuat pergerakan tim sangat terbatas. Akibat kondisi tersebut, tim SAR terpaksa bermalam di lereng tebing dengan kontur tanah berbatu yang labil dan rawan longsor. Seluruh personel bertahan bersama jenazah selama kurang lebih 30 jam.

“Hujan deras, kabut tebal, dan dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah,” katanya.

Untuk mendukung proses pencarian, anjing pelacak (K-9) milik Direktorat Samapta Polda Sulawesi Selatan turut dikerahkan. Kepala Unit Polsatwa Ditsamapta Polda Sulsel, Iptu Samuel Ary, mengatakan satu ekor anjing jenis Dutch Shepherd diterjunkan ke lokasi.

“Iya, kami datang ke sini untuk ikut membantu proses pencarian korban pesawat ATR 42-500,” kata Samuel, Selasa (20/1).

Samuel menjelaskan anjing tersebut memiliki kemampuan mendeteksi keberadaan korban bencana dan telah berpengalaman dalam berbagai operasi kemanusiaan.

“Anjing ini dari Belanda, umurnya 4 tahun. Sebelumnya juga pernah kami turunkan saat bencana longsor di Toraja,” jelasnya.

Direktorat Samapta Polda Sulsel sebenarnya memiliki sekitar 7 ekor anjing K-9, namun sementara ini hanya satu ekor yang dikerahkan karena kondisi cuaca pegunungan yang belum sepenuhnya kondusif.

Image Slide 1