Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Teknologi

Eksodus Pengguna TikTok AS, Dugaan Sensor Politik dan Melonjaknya Aplikasi UpScrolled

×

Eksodus Pengguna TikTok AS, Dugaan Sensor Politik dan Melonjaknya Aplikasi UpScrolled

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi aplikasi Tiktok. Foto: Freepik

Solysiindonesia.com — Platform media sosial TikTok di Amerika Serikat tengah menghadapi gelombang protes pengguna menyusul dugaan sensor konten pasca-pengambilalihan kepemilikan oleh konsorsium AS pada 23 Januari 2026. Masalah teknis yang terjadi bersamaan dengan isu sensitif memicu migrasi besar-besaran ke aplikasi alternatif, UpScrolled.

Sejumlah pengguna melaporkan kegagalan unggah video terkait Immigration and Customs Enforcement (ICE) dan pembatasan kata kunci tertentu seperti “Epstein” di fitur pesan langsung (DM). Selebriti seperti komedian Megan Stalter, streamer Hasan Piker, dan musisi Finneas mengklaim konten kritis mereka terhadap pemerintah dibatasi.

Stalter bahkan secara terbuka menghapus akunnya dan menyerukan gerakan “Delete TikTok” setelah insiden penembakan di Minneapolis pada 25 Januari lalu. Para kritikus mengaitkan masalah ini dengan struktur kepemilikan baru TikTok USDS Joint Venture LLC yang kini didominasi investor Amerika.

Sesuai Perintah Eksekutif September 2025, TikTok AS kini resmi dikelola oleh entitas baru untuk menghindari pelarangan total. Komposisi kepemilikan saat ini adalah:

  • 80,1% Investor AS: Dipimpin oleh Oracle (15%), Silver Lake (15%), MGX (15%), dan keluarga Dell.
  • 19,9% ByteDance: Perusahaan asal China ini hanya mempertahankan porsi minoritas.

Oracle, di bawah kepemimpinan Larry Ellison, memegang kendali penuh atas infrastruktur data dan keamanan pengguna melalui “Project Texas”. Hubungan dekat Ellison dengan Donald Trump memicu kekhawatiran aktivis mengenai potensi bias moderasi konten dalam platform tersebut.

Manajemen TikTok USDS membantah tuduhan sensor sistematis. Dalam pernyataan resminya, perusahaan menyebutkan bahwa kendala unggahan dan rendahnya engagement disebabkan oleh:

  • Gangguan Server: Pemadaman listrik (power outage) pada pusat data mitra di AS akibat cuaca ekstrem.
  • Bug Teknis: Kesalahan sistem yang menyebabkan kata tertentu terdeteksi secara keliru sebagai pelanggaran di DM.
  • Glitch Transisi: Ketidakstabilan server selama masa migrasi operasional ke entitas baru.

Meskipun TikTok mengklaim masalah telah teratasi, tingkat kepercayaan pengguna dilaporkan menurun signifikan. Gubernur California, Gavin Newsom, bahkan telah mengumumkan penyelidikan resmi terkait dugaan pelanggaran hukum sensor.

Di tengah ketidakpastian TikTok, aplikasi UpScrolled muncul sebagai penantang baru. Diluncurkan pada pertengahan 2025 oleh mantan pengembang Oracle, Issam Hijazi, aplikasi ini menawarkan:

  • Umpan Kronologis: Menghindari manipulasi algoritma yang berat.
  • Transparansi Moderasi: Mengusung semangat kebebasan berpendapat tanpa sensor selektif.
  • Keamanan Data: Fokus pada privasi pengguna tanpa keterlibatan korporasi besar yang berafiliasi politik.

UpScrolled dilaporkan melesat ke peringkat 10 besar di App Store AS pada akhir Januari 2026. Selain UpScrolled, platform independen lain seperti Skylight (didukung Mark Cuban) dan Are.na juga mulai dilirik oleh pengguna yang mencari ruang digital yang lebih netral.

Para analis media mencatat bahwa fenomena ini menandai pergeseran besar dalam lanskap media sosial AS, di mana pengguna kini lebih memprioritaskan transparansi kepemilikan dan independensi platform dibandingkan sekadar fitur hiburan.

Image Slide 1