Solusiindonesia.com — Proyek jet tempur generasi kelima buatan Turki, KAAN, kini tengah menjadi magnet kekuatan militer baru di kancah internasional. Setelah Indonesia dan Pakistan, Arab Saudi resmi menyatakan minatnya untuk bergabung dalam pengembangan pesawat tempur siluman ini.
Langkah ini memperkuat potensi lahirnya aliansi pertahanan mandiri di antara negara-negara Muslim, sekaligus memicu kekhawatiran geopolitik bagi Israel dan supremasi teknologi Barat.
Keterlibatan Riyadh terungkap menyusul kunjungan tingkat tinggi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, ke Arab Saudi dan Mesir baru-baru ini. Erdogan menegaskan bahwa KAAN bukan sekadar alat perang, melainkan simbol kemauan pertahanan independen Turki.
“Turki dan Arab Saudi akan meningkatkan kerja sama industri pertahanan. KAAN mendapat pujian besar, dan ada peluang kemitraan kuat dengan Riyadh di bidang ini,” ujar Erdogan dalam penerbangan pulang dari Kairo.
Indonesia telah mengambil langkah konkret dengan menandatangani kesepakatan senilai 15 miliar dolar AS (sekitar Rp251,8 triliun) pada Juni 2025 untuk pengadaan 48 unit KAAN. Perjanjian berdurasi 10 tahun ini mencakup:
- Produksi Bersama: Pembuatan komponen spesifik di Indonesia.
- Mesin Bebas ITAR: Indonesia mensyaratkan mesin tanpa batasan ekspor dari pihak ketiga (AS), guna menjamin kedaulatan penggunaan alutsista.
Sementara itu, Pakistan telah berkomitmen membangun pabrik bersama untuk menekan biaya produksi sekaligus mendapatkan transfer teknologi tingkat tinggi yang selama ini sulit diakses dari negara Barat.
Perbandingan Spesifikasi: KAAN vs F-35
Dikembangkan oleh Turkish Aerospace Industry (TAI), KAAN diproyeksikan tidak hanya menyaingi, tetapi melampaui performa jet tempur andalan Amerika Serikat, F-35, dalam beberapa aspek:
| Fitur | Jet KAAN (Turki) | F-35 (Amerika Serikat) |
|---|---|---|
| Kecepatan Maksimum | Mach 1,8 | Mach 1,6 |
| Teknologi | AI Terintegrasi & Siluman | Siluman & Sensor Fusion |
| Kemampuan | Serangan Jarak Jauh Canggih | Serangan Multi-peran |
Ankit K, asisten profesor di School of International Cooperation, Security and Strategic Languages (SICSSL), dalam tulisannya di Modern Diplomacy, menilai bahwa KAAN menjadi “lem perekat” bagi negara-negara Islam untuk menyatukan kekuatan militer.
Meskipun belum menjadi tantangan instan bagi blok Barat, kehadiran KAAN menciptakan kecemasan nyata bagi Israel. Negara tersebut khawatir jet tempur ini akan digunakan dalam operasi militer terkait isu Palestina di masa depan. Hal ini juga yang mendasari lobi Israel ke Washington untuk membatasi penjualan F-35 ke negara-negara Arab agar keunggulan kualitatif militer mereka tetap terjaga.
Selain negara-negara di atas, Uni Emirat Arab (UEA) melalui pameran IDEX 2025 dikabarkan tengah bernegosiasi untuk kolaborasi produksi. Qatar dan Azerbaijan juga masuk dalam daftar negara yang berminat meminang jet tempur ini.
Dengan keberhasilan terbang perdana yang dijadwalkan tahun ini, KAAN berpotensi mengubah peta kekuatan udara global, menggeser ketergantungan dekade panjang terhadap teknologi militer Barat menuju kemandirian industri pertahanan blok Muslim.







