Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Daerah

Mendagri: Aceh Tamiang Jadi Prioritas Penanganan Lumpur Pascabencana

×

Mendagri: Aceh Tamiang Jadi Prioritas Penanganan Lumpur Pascabencana

Sebarkan artikel ini
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian / foto:https://kemendagri.go.id

Solusiindonesia.com — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menyampaikan bahwa pemerintah telah mengerahkan ribuan personel lintas instansi untuk menangani endapan lumpur di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.

Aceh Tamiang disebut sebagai salah satu wilayah dataran rendah (lowland) yang paling terdampak bencana, dengan kondisi yang diperburuk oleh masuknya lumpur ke berbagai sektor kehidupan masyarakat.

“Daerah lowland yang kita harus atensi betul adalah satu Aceh Tamiang, kemudian Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya,” ujar Tito dalam keterangan tertulis, Selasa (27/1/2026).

Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Wilayah Sumatera yang digelar di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (26/1/2026).

Tito menekankan bahwa endapan lumpur menjadi persoalan utama karena berdampak luas pada pemerintahan, infrastruktur, serta kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Kondisi pemerintahan di Aceh Tamiang yang sempat lumpuh kini mulai pulih.

“Alhamdulillah untuk pemerintahan Tamiang, tadinya mati total, sekarang sudah aktif, sudah bersih,” ungkapnya.

Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah menurunkan ribuan personel dari berbagai lembaga dan institusi pendidikan kedinasan. Jumlahnya antara lain 1.132 praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), 500 mahasiswa Politeknik Statistika STIS, 600 taruna Kementerian Imigrasi dan

Pemasyarakatan, sekitar 2.000 personel TNI, dan 1.000 personel Polri. Selain itu, personel program Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) dari Akmil, AAL, AAU, Unhan, Akpol, dan Politeknik Siber dan Sandi Negara (SSN) juga dikerahkan, sebanyak 1.788 orang.

“Jadi kekuatan di Tamiang itu mungkin mendekati TNI-Polri hampir 10.000 di sana. Karena memang paling banyak kolam yang terdampak lumpur,” jelas Tito.

Ia menegaskan, seluruh personel difokuskan pada pembersihan lumpur dan pemulihan fasilitas pemerintahan, sekolah, pasar, warung, hingga rumah warga.

“Semua, mulai pemerintahan, jalan, pasar, warung, rumah, semua terdampak di sana. Ini kami kira Tamiang ini yang masih terus kita harus kerja keras,” tutupnya.

Image Slide 1