Solusiindonesia.com — Media sosial baru-baru ini dihebohkan dengan narasi yang menyebutkan Kepala Desa (Kades) Purwasaba, Hoho Alkaf, dicopot dari jabatannya. Narasi tersebut mengklaim pencopotan dilakukan setelah Hoho ditegur oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto, terkait tato di sekujur tubuhnya. Namun, berdasarkan penelusuran fakta, informasi tersebut dipastikan hoaks.
Kabar bohong ini bermula dari potongan video Menteri Agus Andrianto saat memberikan arahan internal pada tahun 2025. Dalam video asli, Menteri Agus sebenarnya sedang membahas oknum pegawai Imigrasi di Bali yang terlibat kasus pemerasan dan memiliki tato penuh, bukan sedang membicarakan Kades Hoho.
Oknum tidak bertanggung jawab kemudian mengedit video tersebut dengan menyisipkan foto Kades Hoho Alkaf untuk membangun opini seolah-olah sang kades sedang diboikot atau diberi sanksi.
Menanggapi kegaduhan di dunia maya, Hoho Alkaf melalui akun Facebook resminya pada Rabu (25/2/2026) memberikan klarifikasi tegas. Ia menyayangkan tindakan para kreator konten yang menyebarkan fitnah demi mengejar popularitas.
- Bukan untuk Kades: Hoho menjelaskan bahwa pernyataan Menteri Agus ditujukan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Imigrasi yang melanggar hukum, bukan untuk kepala desa.
- Hubungan Baik dengan Menteri: Hoho menegaskan bahwa hubungannya dengan Menteri Agus Andrianto sangat baik. Ia mengaku sering berkomunikasi, bahkan melalui panggilan video (video call).
- Himbauan Bijak Bermedsos: Ia meminta netizen untuk tidak menghalalkan segala cara, seperti mengedit video lama, hanya demi mendapatkan engagement (FYP) atau menambah pengikut.
“Saya mohon kepada para netizen, jangan karena ingin videonya FYP lalu melakukan pengeditan yang menyesatkan. Itu tidak baik dan tidak penting,” ujar Hoho Alkaf.
Fenomena ini memicu beragam reaksi dari warganet. Beberapa pengguna media sosial sempat terkecoh dan memberikan komentar negatif sebelum akhirnya menyadari bahwa konten tersebut adalah hasil manipulasi.
Hoho Alkaf berpesan agar masyarakat Indonesia lebih skeptis dan rajin melakukan cek fakta sebelum mempercayai sebuah unggahan di media sosial. Terlebih lagi, video yang digunakan merupakan stok lama yang kembali diputar dengan narasi baru yang menyimpang dari konteks aslinya.







