Solusiindonesia.com — Sektor kuliner Singapura kembali berduka. Setelah bertahan hampir delapan dekade, Warong Nasi Pariaman, yang diyakini sebagai restoran Nasi Padang tertua di Negeri Singa, resmi mengumumkan penutupan permanennya. Keputusan pahit ini menjadi simbol nyata betapa beratnya tekanan bisnis makanan dan minuman (F&B) di Singapura saat ini.
Didirikan sejak tahun 1946, Warong Nasi Pariaman telah menjadi saksi bisu perkembangan Singapura dari era pasca-perang hingga menjadi pusat finansial global. Restoran yang berlokasi di area historis Kampong Glam ini mengonfirmasi akan berhenti beroperasi mulai 31 Januari 2026.
Melalui unggahan di media sosial resminya, pihak manajemen menyampaikan pesan perpisahan yang emosional kepada para pelanggan setianya.
“Terima kasih atas dukungan, cinta, dan kenangan manis Anda bersama kami selama ini,” tulis mereka sebagaimana dikutip dari The Straits Times.
Restoran ini bukan sekadar tempat makan; pada 2016, mereka dianugerahi Heritage Heroes Awards atas dedikasinya melestarikan kuliner otentik Indonesia di Singapura.
Meskipun alasan resmi penutupan tidak dirinci oleh pihak keluarga, tren ekonomi di kawasan Kampong Glam memberikan petunjuk kuat. Data dari CNA menunjukkan adanya lonjakan biaya operasional yang drastis. Harga sewa kios yang semula berkisar di angka 3.000 dolar Singapura, kini Angka tersebut meroket hingga mendekati 10.000 dolar Singapura per bulan.
Kenaikan biaya sewa hingga tiga kali lipat ini disinyalir menjadi beban berat bagi bisnis kuliner tradisional yang margin keuntungannya kian menipis.
Kasus Warong Nasi Pariaman hanyalah puncak gunung es dari krisis yang melanda industri F&B Singapura. Berdasarkan data terbaru tahun 2025, rasio penutupan bisnis kuliner mencapai angka yang mengkhawatirkan:
Tahun Rata-rata Penutupan Kios/Bulan 2022 – 2023 230 kios 2024 254 kios 2025 307 kios
Angka ini menunjukkan bahwa kondisi bisnis kuliner di tahun 2025 justru lebih menantang dibandingkan masa pandemi. Tingginya biaya bahan baku, kelangkaan tenaga kerja, dan inflasi membuat banyak pengusaha kuliner—baik legendaris maupun pendatang baru—terpaksa mengibarkan bendera putih.








