Solusiindonesia.com — Gereja Keluarga Kudus di Gaza akhirnya kembali menyalakan pohon Natalnya setelah dua tahun terdiam akibat perang genosida Israel di Jalur Gaza.
Mengutip dari La Jazeera, momen ini berlangsung dalam misa Malam Natal Rabu(24/12/2025), ketika para jemaat memadati aula doa utama.
Bagi banyak orang, kebahagiaan yang dirasakan bukan semata karena perayaan Natal, tetapi karena fakta sederhana bahwa mereka masih hidup hingga hari ini. Gemerlap lampu pada pohon Natal besar dan dekorasi liburan tidak mampu menutupi kenyataan pahit yang ditinggalkan perang di Gaza.
Gereja memilih membatasi perayaan hanya pada kebaktian doa dan pertemuan keluarga singkat. Namun, denting lonceng gereja yang menggema sudah cukup untuk menghadirkan rasa sukacita di hati jemaat.
Secara demografis, sebagian besar umat Kristen Palestina tinggal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki, dengan jumlah sekitar 47.000 hingga 50.000 jiwa, ditambah sekitar 1.000 umat di Gaza sebelum perang pecah.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah umat Kristen di Gaza terus menyusut. Saat ini, hanya tersisa beberapa ratus orang, turun drastis dari sekitar 3.000 jiwa yang tercatat pada 2007.
Selama perang berlangsung, serangan Israel dilaporkan menargetkan sejumlah tempat ibadah Kristen yang dijadikan lokasi perlindungan oleh pengungsi Palestina.
Meski Gereja Keluarga Kudus tidak termasuk dalam zona pengusiran yang ditetapkan Israel, sejumlah gereja lain di Kota Gaza termasuk Gereja Ortodoks Yunani Santo Porphyrius dan Gereja Anglikan Santo Philip masuk dalam wilayah tersebut.
Di sisi lain, hampir 550 pengungsi yang berlindung di Gereja Keluarga Kudus masih menyimpan ketidakpercayaan terhadap militer Israel. Gereja ini sebelumnya telah beberapa kali diserang, meskipun Israel menyatakan tidak menargetkan tempat ibadah.
Banyak dari para pengungsi itu masih bergulat dengan trauma mendalam dan berusaha menata kembali kehidupan yang terasa normal di tengah kehancuran.
Harapan menggema di seluruh Jalur Gaza, di mana hampir dua juta warga menghadapi serangan Israel yang berkelanjutan, pelanggaran gencatan senjata, serta krisis pangan, obat-obatan, tempat tinggal, dan layanan dasar.
Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat lebih dari 288.000 keluarga kini mengalami krisis perumahan, yang diperparah oleh pembatasan Israel terhadap masuknya bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina yang mengungsi akibat perang.
Sementara itu, data PBB menunjukkan lebih dari 80 persen bangunan di Gaza telah rusak atau hancur selama perang, memicu gelombang pengungsian besar-besaran.
Natal tahun ini membawa secercah sukacita dan kelegaan bagi umat Kristen di Gaza dan Palestina secara umum. Banyak warga Palestina kembali menegaskan rasa memiliki dan keterikatan mereka terhadap tanah air, meski harus menghadapi penderitaan, tragedi, dan perang berkepanjangan.








