Solusilndonesia.com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Venezuela akan memasok antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke AS. Ia menegaskan bahwa hasil penjualan minyak tersebut akan digunakan “untuk kepentingan rakyat” kedua negara. Pernyataan itu disampaikan Trump pada Selasa (6/1/2026).
Mengutip laporan AP News, Gedung Putih dijadwalkan menggelar pertemuan pada Jumat mendatang dengan para eksekutif perusahaan minyak besar Amerika Serikat guna membahas situasi Venezuela.
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintahan Trump menekan Caracas agar membuka industri minyaknya yang kaya cadangan namun tengah terpuruk kepada investasi dan keahlian perusahaan energi AS namun dengan syarat anonimitas karena pembahasan belum bersifat publik.
Sementara itu, ketegangan meningkat di Venezuela setelah pejabat di Caracas mengumumkan bahwa sedikitnya 24 petugas keamanan tewas dalam operasi militer Amerika Serikat yang dilakukan tengah malam untuk menangkap Presiden Nicolás Maduro dan membawanya ke AS guna menghadapi tuduhan terkait narkoba.
Penjabat presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, secara terbuka menolak pernyataan Trump. Penolakan itu merespons peringatan Trump awal pekan ini yang menyebut Rodríguez akan menghadapi nasib “lebih buruk daripada Maduro” jika tidak “melakukan apa yang benar” dan mengarahkan Venezuela agar sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat, termasuk membuka akses luas bagi perusahaan energi AS.
Dalam pidatonya di hadapan pejabat sektor pertanian dan industri pada Selasa, Rodríguez menyatakan, “Secara pribadi, kepada mereka yang mengancam saya: Nasib saya tidak ditentukan oleh mereka, tetapi oleh Tuhan.”
Jaksa Agung Venezuela, Tarek William Saab, mengatakan bahwa secara keseluruhan “puluhan” petugas keamanan dan warga sipil tewas dalam serangan akhir pekan di Caracas. Ia menyebut pihak kejaksaan akan menyelidiki kematian tersebut sebagai dugaan “kejahatan perang,” meski tidak merinci secara spesifik apakah angka itu mencakup warga sipil Venezuela.
Selain korban dari pihak Venezuela, pemerintah Kuba sebelumnya mengonfirmasi bahwa 32 personel militer dan kepolisian Kuba yang bertugas di Venezuela turut tewas dalam penggerebekan tersebut. Pemerintah Kuba menyebut para korban berasal dari Angkatan Bersenjata Revolusioner dan Kementerian Dalam Negeri, dua institusi keamanan utama negara itu.
Dari pihak Amerika Serikat, Pentagon melaporkan tujuh personel militer AS mengalami luka-luka dalam operasi tersebut. Lima di antaranya telah kembali bertugas, sementara dua lainnya masih menjalani pemulihan. Seorang pejabat AS yang tidak berwenang berbicara secara terbuka menyebut luka-luka tersebut meliputi tembakan senjata api dan serpihan ledakan.
Militer Venezuela mengunggah video penghormatan bagi para petugas yang tewas melalui akun Instagram resminya. Video tersebut menampilkan wajah para korban diiringi cuplikan hitam-putih tentara, pesawat Amerika yang terbang di atas Caracas, serta kendaraan lapis baja yang hancur akibat ledakan.
Di sisi lain, jalan-jalan di Caracas yang sempat lengang pasca-penangkapan Maduro mulai dipenuhi massa yang mengibarkan bendera Venezuela dan mengikuti musik patriotik dalam aksi dukungan yang diselenggarakan pemerintah.
“Darah mereka yang tertumpah tidak menyerukan pembalasan, tetapi keadilan dan kekuatan,” tulis militer Venezuela.
“Ini menegaskan kembali sumpah teguh kami untuk tidak beristirahat sampai kami menyelamatkan Presiden kami yang sah, membubarkan sepenuhnya kelompok-kelompok teroris yang beroperasi dari luar negeri, dan memastikan bahwa peristiwa seperti ini tidak akan pernah lagi menodai tanah kedaulatan kami.” tambahnya
Masa depan minyak Venezuela dipertanyakan
Dengan harga minyak global sekitar 56 dolar AS per barel, kesepakatan yang diumumkan Trump pada Selasa malam berpotensi bernilai hingga 2,8 miliar dolar AS. Amerika Serikat sendiri mengonsumsi sekitar 20 juta barel minyak dan produk turunannya per hari, sehingga volume minyak dari Venezuela tersebut setara dengan pasokan selama sekitar dua setengah hari, menurut data Badan Informasi Energi AS.
Meski memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia, produksi Venezuela saat ini hanya sekitar satu juta barel per hari jauh tertinggal dibandingkan produksi AS yang rata-rata mencapai 13,9 juta barel per hari pada Oktober lalu. Hingga berita ini diturunkan, kantor pers pemerintah Venezuela belum memberikan tanggapan resmi terkait pengumuman Trump tersebut.
Di sisi lain, ExxonMobil tengah mengembangkan cadangan minyak lepas pantai berskala besar di perairan Guyana, negara tetangga Venezuela di sebelah timur. Penemuan besar pada 2015 itu memicu Caracas menghidupkan kembali sengketa teritorial yang telah berlangsung selama satu abad dengan Guyana, termasuk langkah untuk mencaplok wilayah Essequibo yang mencakup sekitar dua pertiga daratan Guyana.
Situasi tersebut memicu berbagai tudingan dari pemerintah Venezuela terhadap otoritas Guyana dan ExxonMobil. Dua tahun lalu, parlemen Venezuela bahkan sempat mempertimbangkan larangan operasi di Venezuela bagi perusahaan minyak yang beroperasi di Guyana.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump juga menepis kritik dari Partai Demokrat terkait operasi militer akhir pekan lalu. Ia menegaskan bahwa Presiden AS sebelumnya dari Partai Demokrat, Joe Biden, juga menyerukan penangkapan Maduro atas tuduhan perdagangan narkoba.
Dalam pidatonya di hadapan pertemuan Partai Republik di DPR AS, Trump mengeluhkan kurangnya apresiasi dari Partai Demokrat atas operasi tersebut, meski menurutnya ada kesepakatan lintas partai bahwa Maduro bukanlah presiden Venezuela yang sah.
Maduro sendiri telah didakwa di Amerika Serikat sejak 2020 atas tuduhan keterlibatan dalam konspirasi terorisme narkoba dan perdagangan kokain internasional selama beberapa dekade.
Pejabat Gedung Putih mencatat bahwa pemerintahan Biden pada akhir masa jabatannya menaikkan hadiah bagi informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro. Pemerintahan Trump kemudian menggandakan hadiah tersebut menjadi 50 juta dolar AS pada Agustus lalu.
“Anda tahu, pada suatu saat nanti, mereka seharusnya berkata, ‘Anda telah melakukan pekerjaan yang hebat. Terima kasih. Selamat.’ Bukankah itu bagus?” ujar Trump dalam pidatonya di pertemuan Partai Republik di DPR AS (House Republicans) di Washington.
“Saya akan mengatakan bahwa jika mereka melakukan pekerjaan yang baik, filosofi mereka sangat berbeda. Tetapi jika mereka melakukan pekerjaan yang baik, saya akan senang untuk negara ini. Mereka telah mengejar orang ini selama bertahun-tahun.” pungkasnya








