Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Iran Siaga Satu: Teheran Peringatkan AS dan Israel Terkait Ancaman Militer di Teluk Persia

×

Iran Siaga Satu: Teheran Peringatkan AS dan Israel Terkait Ancaman Militer di Teluk Persia

Sebarkan artikel ini
Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei. Foto: Instagram

Solusiindonesia.com — Pemerintah Iran menyatakan posisi “siaga penuh” dan mengaku lebih siap dari sebelumnya untuk menghadapi potensi agresi militer. Pernyataan tegas ini muncul di tengah eskalasi ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dipicu oleh gelombang protes domestik serta pergerakan armada perang Pentagon menuju Teluk Persia.

Dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Senin (26/1), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, melabeli situasi saat ini sebagai “perang campuran” (hybrid war). Istilah ini merujuk pada kombinasi tekanan politik, aksi protes yang berujung kekerasan, dan ancaman militer langsung.

Baghaei menuduh Washington dan Tel Aviv berada di balik kerusuhan domestik yang melanda Iran baru-baru ini. Menurut data pemerintah Iran, konflik internal tersebut telah memakan korban jiwa hingga lebih dari 3.000 orang.

Ketegangan mencapai titik didih setelah Presiden AS, Donald Trump, mengonfirmasi pengiriman “armada” tempur ke Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln bersama sejumlah kapal perusak berpeluru kendali dijadwalkan tiba di kawasan tersebut dalam waktu dekat.

Selain pergerakan militer, retorika politik Trump juga dinilai provokatif oleh pihak Teheran. Trump menjanjikan bantuan bagi pengunjuk rasa dan mendesak mereka mengambil alih lembaga negara.

Pernyataan Trump mengenai perlunya perubahan kepemimpinan dianggap sebagai ancaman langsung terhadap Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.

Menghadapi ancaman tersebut, Iran juga melakukan manuver diplomatik dengan merangkul negara-negara tetangga. Baghaei menekankan bahwa setiap serangan militer terhadap Iran akan berdampak domino bagi stabilitas seluruh kawasan.

“Negara-negara di kawasan memahami bahwa ketidakstabilan bersifat menular. Kami mendesak tetangga kami untuk mengambil sikap tegas terhadap ancaman AS,” ujar Baghaei.

Iran menegaskan bahwa pengalaman perang di masa lalu dan penguatan alutsista dalam negeri akan membuat pihak agresor menyesal jika berani melakukan serangan.

Situasi ini menandai salah satu titik terendah hubungan AS-Iran di awal tahun 2026. Kehadiran armada tempur AS di Teluk Persia tidak hanya menjadi tekanan psikologis bagi Teheran, tetapi juga meningkatkan risiko gesekan senjata yang tidak disengaja di jalur perdagangan minyak internasional.

Image Slide 1