Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Pemerintah Iran Rilis Data Korban Protes: 3.117 Tewas, Aktivis Sebut Angka Jauh Lebih Tinggi

×

Pemerintah Iran Rilis Data Korban Protes: 3.117 Tewas, Aktivis Sebut Angka Jauh Lebih Tinggi

Sebarkan artikel ini
Jutaan masa tumpah ruah demo di Iran. Foto: X

Solusiindonesia.com — Pemerintah Iran akhirnya merilis pernyataan resmi terkait jumlah korban jiwa dalam gelombang unjuk rasa antipemerintah yang mengguncang negara tersebut sejak awal Januari 2026. Data resmi menyebutkan sedikitnya 3.117 orang tewas, meski angka ini disanggah keras oleh kelompok aktivis Hak Asasi Manusia (HAM).

Berdasarkan laporan Yayasan Veteran dan Martir Iran yang disiarkan televisi pemerintah pada Kamis (22/1/2026), otoritas membagi klasifikasi korban dalam dua kategori utama:

  • 2.427 Korban “Martir”: Kategori ini mencakup warga sipil yang dianggap tidak bersalah serta anggota pasukan keamanan yang gugur dalam tugas.
  • 690 Korban “Perusuh”: Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Akbar Pourjamshidian, menyatakan kelompok ini terdiri dari pihak yang dilabeli sebagai teroris dan penyerang instalasi militer.

“Mereka yang tidak termasuk dalam daftar martir adalah para perusuh dan mereka yang melakukan serangan terhadap situs-situs militer,” tegas Pourjamshidian dalam keterangannya.

Meskipun angka resmi telah keluar, para aktivis HAM internasional meragukan validitas data tersebut. Mereka meyakini jumlah korban riil jauh melampaui angka yang dirilis pemerintah.

Penindakan keras oleh aparat keamanan dilaporkan terjadi secara sistematis. Aktivis menyebutkan bahwa penggunaan peluru tajam terhadap demonstran menjadi penyebab utama tingginya angka kematian. Selain itu, strategi pemadaman internet total (internet blackout) disebut-sebut digunakan otoritas sebagai kedok untuk menutupi skala kekerasan di lapangan.

Unjuk rasa yang kini mulai mereda ini pada awalnya dipicu oleh krisis ekonomi dan kesulitan hidup masyarakat. Namun, dalam hitungan hari, narasi protes meluas menjadi gerakan politik yang menuntut perubahan besar dalam kepemimpinan ulama Iran yang telah berkuasa sejak revolusi 1979.

Otoritas Iran tetap pada pendiriannya dengan menuding Amerika Serikat (AS) sebagai aktor intelektual di balik kerusuhan tersebut, melabeli gerakan massa sebagai tindakan “terorisme” yang disuntikkan dari luar negeri.

Image Slide 1