Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Pembukaan Terbatas Rafah Disiapkan di Tengah Upaya Gencatan Senjata

×

Pembukaan Terbatas Rafah Disiapkan di Tengah Upaya Gencatan Senjata

Sebarkan artikel ini
Penyeberangan Rafah / foto: tangkapan layar

Solusiindonesia.com — Warga Palestina di Jalur Gaza menanti dengan harapan bercampur cemas pada Minggu (01/02/2026) ketika para pekerja mulai mempersiapkan pembukaan kembali penyeberangan Rafah yang menghubungkan wilayah tersebut dengan Mesir.

Jalur ini menjadi satu-satunya akses vital warga Gaza ke dunia luar setelah berbulan-bulan tertutup akibat konflik. Pemerintah Israel menyatakan penyeberangan Rafah dijadwalkan mulai dibuka kembali pada Senin, seiring berjalannya gencatan senjata dengan Hamas.

Dikutip dari AP News, warga Gaza menyambut rencana pembukaan tersebut dengan optimisme, meski dibayangi kekhawatiran soal pembatasan jumlah orang yang diizinkan melintas.

“Pembukaan perlintasan ini adalah langkah yang baik, tetapi mereka membatasi jumlah orang yang diizinkan menyeberang, dan ini menjadi masalah,” ujar Ghalia Abu Mustafa, warga Khan Younis .

Israel menyebut pembukaan Rafah tahap awal bersifat uji coba. Otoritas militer Israel yang mengoordinasikan bantuan ke Gaza mengatakan warga dapat mulai menyeberang pada Senin, namun hanya dalam jumlah terbatas.

Pengumuman tersebut muncul sehari setelah serangan Israel menewaskan sedikitnya 30 warga Palestina, termasuk anak-anak, menurut otoritas rumah sakit setempat.

Angka itu menjadi salah satu korban tertinggi sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober. Israel menuduh Hamas melakukan pelanggaran terbaru atas kesepakatan gencatan senjata.

Direktur Jenderal Dewan Perdamaian Gaza yang baru dibentuk oleh Presiden AS Donald Trump, Nicolay Mladenov, mendesak semua pihak untuk menahan diri. Ia mengatakan pihaknya bekerja sama dengan komite Palestina baru yang dipilih untuk mengawasi Gaza guna mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.

Pada tahap awal, puluhan orang diperkirakan dapat keluar dan masuk Gaza setiap hari. Penyeberangan Rafah sendiri sebagian besar ditutup sejak Israel merebut kendali wilayah tersebut pada Mei 2024.

Sekitar 20.000 warga Palestina, termasuk anak-anak dan orang dewasa yang membutuhkan perawatan medis, berharap dapat meninggalkan Gaza melalui jalur ini, sementara ribuan lainnya di luar wilayah menantikan kesempatan untuk kembali.

Namun, pada tahap awal tidak ada kargo yang diizinkan melintas. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pemerintahnya akan mengizinkan sekitar 50 pasien yang membutuhkan evakuasi medis untuk keluar setiap hari.

Seorang pejabat yang terlibat dalam pembahasan diplomatik mengatakan setiap pasien dapat didampingi dua anggota keluarga, sementara 50 warga Palestina yang sebelumnya meninggalkan Gaza selama perang diizinkan kembali setiap hari.

Kepala Departemen Dokumentasi Kementerian Kesehatan Gaza, Zaher al-Wahidi, mengatakan pihaknya belum menerima pemberitahuan resmi terkait dimulainya evakuasi medis tersebut. Israel dan Mesir juga menyatakan akan melakukan pemeriksaan ketat terhadap setiap orang yang keluar dan masuk melalui Rafah, dengan pengawasan dari agen patroli perbatasan Uni Eropa. Jumlah pelintas diperkirakan akan meningkat jika mekanisme ini berjalan lancar.

Di sisi lain, Kementerian Diaspora Israel menyatakan tengah berupaya menghentikan operasi Doctors Without Borders (Médecins Sans Frontières/MSF) di Gaza mulai 28 Februari. Sebelumnya, pada Desember, Israel menangguhkan aktivitas organisasi tersebut karena menolak mematuhi aturan pendaftaran baru yang mewajibkan penyerahan daftar staf lokal.

MSF menyatakan kebijakan tersebut dapat membahayakan keselamatan staf Palestina dan berdampak besar pada layanan kesehatan di Gaza. Saat ini, organisasi tersebut mendukung enam rumah sakit, mengelola dua rumah sakit lapangan, delapan pusat kesehatan primer, serta dua pusat stabilisasi anak dengan kekurangan gizi parah.

Rafah selama ini menjadi jalur utama keluar masuk Gaza sebelum perang. Israel menyebut pengambilalihan penyeberangan tersebut sebagai bagian dari upaya mencegah penyelundupan senjata Hamas. Mesir berulang kali menegaskan pembukaan Rafah harus memungkinkan pergerakan dua arah, bukan pengusiran warga Palestina dari wilayahnya.

Gencatan senjata ini menghentikan perang lebih dari dua tahun yang dipicu serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan balasan Israel telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina.

Fase pertama gencatan senjata mencakup pertukaran sandera, peningkatan bantuan kemanusiaan, serta penarikan sebagian pasukan Israel, sementara fase kedua menargetkan pembentukan pemerintahan baru Gaza dan langkah awal rekonstruksi.

Image Slide 1