Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Iran Tegas Ogah Gencatan Senjata, Menlu Araghchi: Kami Lawan Sampai AS Sadar

×

Iran Tegas Ogah Gencatan Senjata, Menlu Araghchi: Kami Lawan Sampai AS Sadar

Sebarkan artikel ini
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam sebuah konferensi. Foto: Instagram

Solusiindonesia.com — Ketegangan di Timur Tengah semakin membara. Pemerintah Iran secara terbuka menyatakan menolak opsi gencatan senjata di tengah konflik yang kian memanas dengan Amerika Serikat (AS). Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan pihaknya akan terus melancarkan perlawanan hingga Washington menyadari kesalahan besar yang telah diperbuat.

Araghchi membantah keras rumor yang menyebutkan adanya kesepakatan damai atau negosiasi di balik layar. Lewat unggahan di platform X, ia menyebut klaim tersebut hanyalah isapan jempol belaka.

“Iran tidak pernah meminta gencatan senjata atau perundingan. Klaim seperti itu hanyalah khayalan,” tegas Araghchi, sebagaimana dikutip dari laporan Antara, Senin (16/3/2026).

Diplomat senior Iran ini menekankan bahwa kekuatan militer Teheran tidak akan tinggal diam. Menurutnya, serangan akan terus dilakukan sebagai bentuk peringatan keras kepada Presiden AS, Donald Trump.

“Militer Iran yang perkasa akan terus menembak sampai Presiden AS menyadari bahwa perang ilegal yang ia timpakan kepada rakyat Amerika dan Iran adalah salah dan tidak boleh diulangi lagi,” tulisnya.

Selain menuntut penghentian agresi, Araghchi juga menyoroti hak para korban serangan untuk mendapatkan kompensasi atas kerugian yang diderita selama konflik berlangsung.

Eskalasi besar ini berakar dari peristiwa pada 28 Februari lalu, saat Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara ke sejumlah titik strategis di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan tersebut tidak hanya merusak infrastruktur sipil, tetapi juga membawa duka nasional bagi publik Iran.

Serangan gabungan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, yang memicu masa berkabung nasional selama 40 hari. Sebagai respons, Iran menyerang balik wilayah Israel serta fasilitas militer milik AS yang tersebar di kawasan Timur Tengah.

Awalnya, AS dan Israel berdalih serangan dilakukan untuk melumpuhkan program nuklir Iran. Namun belakangan, tujuan tersebut bergeser pada keinginan untuk melakukan pergantian kekuasaan (regime change) di Iran.

Kondisi di lapangan saat ini masih sangat cair. Iran bahkan sempat mengeluarkan tantangan terbuka agar AS berani mengirimkan kapal perangnya ke Teluk Persia jika ingin menguji nyali pertahanan mereka.

Di sisi lain, narasi mengenai intelijen juga menguat. Iran mengklaim telah menahan ratusan orang yang diduga bekerja sebagai mata-mata untuk pihak musuh di tengah kecamuk perang ini.