Solusiindonesia.com — Militer Israel terus menyerang kota Gaza tanpa henti dan mengakibatkan lebih dari 50 warga Palestina yang tewas, termasuk para pencari bantuan.
Setidaknya sekitar 105 warga Palestina Tewas di Gaza ketika Israel meratakan wilayah padat penduduk, terutama pada lingkungan Al-Sabra, setidaknya 32 dari mereka tewas saat mencari bantuan. Selasa (03/09/2025).
Dikutip dari Al Jazeera, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel menghadapi “tahap yang menentukan” dalam perang ini karena bersiap merebut Kota Gaza meskipun ada kecaman global. Serangan yang dilakukan oleh Militer Israel semakin intensif.
“Warga Palestina kini terjebak di Kota Gaza dan berusaha bertahan dari gempuran udara sebisa mungkin. Ke mana pun mereka berpindah, serangan udara terus membayangi,” kata Hind Khoudary dari Al Jazeera.
“Selain itu, mereka juga sekarat akibat blokade pangan dan bantuan karena tidak mampu mengakses kebutuhan dasar untuk hidup,” lanjutnya saat melaporkan dari Deir el-Balah, Gaza tengah.
Masyarakat Palestina menghadapi dua ancaman mematikan sekaligus, yakni serangan bersenjata dan kelaparan.
Sedikitnya 13 orang dilaporkan meninggal karena kelaparan dalam kurun 24 jam terakhir. Angka ini menambah jumlah korban tewas akibat kelaparan sejak awal perang menjadi 361 jiwa.
Dari jumlah tersebut, 83 kematian tercatat sejak pemantau global mengonfirmasi kondisi kelaparan di Gaza pada 22 Agustus.
Pada Selasa, sedikitnya 21 orang, termasuk tujuh anak-anak, menjadi korban serangan drone Israel ketika mereka sedang mengantre air di kawasan al-Mawasi, Khan Younis, Gaza selatan.
Foto-foto yang dibagikan secara daring oleh juru bicara Pertahanan Sipil Palestina, Mahmoud Basal, memperlihatkan tubuh anak-anak dan wadah air berlumuran darah di lokasi yang sebelumnya oleh Israel disebut sebagai “zona aman”.
“Mereka tengah mengantre untuk mendapatkan air … lalu pasukan pendudukan langsung menyerang mereka, mengubah pencarian kehidupan menjadi sebuah pembantaian baru,” ungkap Basal pada Selasa.
Sementara itu, serangan Israel terhadap rumah keluarga al-Af di Kota Gaza menewaskan 10 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut pejabat setempat.
“Kejahatan-kejahatan ini menunjukkan watak fasis dan kriminal musuh,” bunyi pernyataan dari Kantor Media Pemerintah Gaza yang juga menuding adanya keterlibatan Washington.
Kantor tersebut menyebut tindakan Israel sebagai “kejahatan perang menurut hukum internasional” dan mendesak Dewan Keamanan PBB segera menghentikan “genosida brutal”.
Selain itu, dua jurnalis Rasmi Salem dari al-Manara dan Eman al-Zamli turut menjadi korban jiwa dalam serangan terbaru. Dengan demikian, jumlah jurnalis yang terbunuh sejak 7 Oktober 2023 kini telah melampaui 270 orang.
Menurut lembaga pemantau pers, perang Gaza tercatat sebagai konflik paling mematikan bagi pekerja media sepanjang sejarah.





