Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Warga Tulkarem Ditangkap, Militer Israel Perluas Jangkauan Operasi

×

Warga Tulkarem Ditangkap, Militer Israel Perluas Jangkauan Operasi

Sebarkan artikel ini
Pasukan Israel telah menangkap lebih dari 100 warga Palestina dalam operasi penggerebekan di kota Tulkarem / foto: tangkapan layar

Solusiindonesia.com — Pasukan Israel telah menangkap lebih dari 100 warga Palestina dalam operasi penggerebekan di kota Tulkarem, Tepi Barat yang masih berada di bawah pendudukan. Selain itu, otoritas militer memberlakukan jam malam di wilayah tersebut. Kamis (11/9/2025).

Menurut laporan Al Jazeera, ofensif Israel di Jalur Gaza memaksa lebih dari 200.000 warga Palestina meninggalkan pusat kota terbesar di wilayah tersebut untuk mencari tempat aman.

Sebelumnya diberitakan, penggerebekan di Tulkarem dilakukan usai dua tentara Israel dilaporkan terluka ketika kendaraan militer mereka terkena ledakan alat peledak rakitan.

Dalam operasi itu, tentara menyerbu sejumlah toko dan kafe, menahan pelanggan maupun warga yang berada di kendaraan. Mereka kemudian dipaksa berjalan menuju pos pemeriksaan militer, demikian keterangan dari koresponden WAFA.

Gelombang kekerasan di Tepi Barat meningkat setelah enam orang tewas dalam insiden penembakan di Yerusalem Timur awal pekan ini. Brigade Qassam, sayap militer Hamas, mengklaim bertanggung jawab atas aksi tersebut yang juga berujung pada kematian kedua pelaku.

Sebagai respons, Israel memerintahkan penghancuran rumah para pelaku serta menjatuhkan sanksi kepada keluarga mereka dan warga di kampung halaman mereka, yakni Qatanna dan al-Qubeiba, yang terletak di barat laut Yerusalem.

“Telah terjadi pengepungan dan penguncian total di wilayah-wilayah ini,” ujar Hamdah Salhut dari Al Jazeera pada hari Selasa setelah penembakan tersebut. “Hukuman kolektif sedang berlangsung di Tepi Barat yang diduduki.”

Sejak melancarkan perang besar-besaran di Gaza, Israel memperketat operasi di Tepi Barat. Lebih dari 1.000 warga Palestina tewas, ribuan ditahan, dan ratusan rumah beserta infrastruktur sipil hancur.

Bahkan sebelum serangan 7 Oktober 2023 yang dilakukan Hamas dan kelompok Palestina lainnya, tingkat kekerasan militer maupun pemukim Israel sudah mencapai rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Akibat operasi militer, lebih dari 40.000 warga Palestina di Tepi Barat terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.

Selain itu, aksi kekerasan oleh pemukim Israel meningkat tajam sepanjang perang di Gaza. Data OCHA mencatat sedikitnya 1.860 insiden kekerasan pemukim terjadi di Tepi Barat sejak 7 Oktober 2023 hingga 31 Desember 2024.

Menguatnya posisi politik kelompok sayap kanan di Israel membuat pemerintahan bergerak semakin keras. Beberapa pejabat senior, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, secara terbuka menyuarakan retorika anti-Palestina.

“Kami akan memenuhi janji kami bahwa tidak akan ada negara Palestina. Tempat ini milik kami,” tegas Netanyahu dalam sebuah acara di Maale Adumim, permukiman ilegal Israel di sebelah timur Yerusalem, pada hari Kamis (11/09/2025).