Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Dua Tahun Konflik Sudan: RSF Siap Hentikan Perang, SAF Ajukan Syarat Berat

×

Dua Tahun Konflik Sudan: RSF Siap Hentikan Perang, SAF Ajukan Syarat Berat

Sebarkan artikel ini
Kondisi Wilayah Sudan / foto: tangkapan layar x

Solusiindonesia.com — Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) menyatakan menerima proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat untuk menghentikan konflik berkepanjangan dengan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF).

Mengutip dari Al Jazeera, Dalam pernyataan resmi, RSF menyebut akan menyetujui “gencatan senjata kemanusiaan” yang dirancang oleh kelompok mediator “quad” yang dipimpin AS yang melibatkan Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab demi merespons dampak kemanusiaan yang semakin memburuk dan meningkatkan perlindungan terhadap warga sipil. Kamis (06/11/2025)

Hingga saat ini SAF belum memberikan komentar mengenai keputusan RSF tersebut.

Sebelumnya, Massad Boulos, penasihat senior AS untuk urusan Arab dan Afrika, mengungkapkan bahwa kedua pihak “telah sepakat secara prinsip” mengenai inisiatif tersebut.

“Kami belum mencatat adanya keberatan awal dari kedua belah pihak. Kami sekarang fokus pada detail-detail kecilnya,” ujar Boulos, seperti diberitakan Sudan Tribune pada Senin (03/11/2025)

Laporan dari Hiba Morgan, koresponden Al Jazeera di Khartoum, menyebut rencana gencatan senjata itu akan dimulai dengan jeda kemanusiaan selama tiga bulan.

Periode ini diharapkan menjadi pintu masuk menuju kesepakatan politik jangka panjang, termasuk pembentukan pemerintahan sipil baru. RSF, menurut Morgan, ingin mengakhiri konflik dua tahun yang telah menghancurkan negara tersebut.

Namun pihak SAF berulang kali menyatakan masih ingin melanjutkan operasi militer. Pejabat SAF tidak yakin RSF dapat diintegrasikan kembali ke masyarakat.

Militer Sudan juga sebelumnya menolak keterlibatan UEA dalam proses mediasi, dan menuntut RSF untuk meninggalkan kota-kota yang berhasil dikuasainya.

“Akses kemanusiaan yang akan dihasilkan dari gencatan senjata ini sangat dibutuhkan, tetapi tentara Sudan belum menyetujuinya. Mereka punya syarat,” lapor Morgan. “Sepertinya RSF tidak akan memenuhinya.”

Pada Kamis, Panglima SAF Abdel Fattah al-Burhan kembali menegaskan sikap kerasnya. Dalam pidato yang disiarkan televisi, ia menyatakan pasukannya akan terus bertempur.

“Segera, kami akan membalaskan dendam mereka yang telah terbunuh dan dianiaya … di semua wilayah yang diserang pemberontak,” ujarnya.

RSF saat ini menghadapi tuduhan pembunuhan massal setelah merebut kota el-Fasher di Darfur Utara pada 26 Oktober, usai pengepungan selama 18 bulan.

Menurut PBB, lebih dari 70.000 warga telah melarikan diri dari kota tersebut sejak RSF mengambil alih, dengan laporan mengenai eksekusi kilat, kekerasan seksual, hingga pembunuhan warga sipil.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut lebih dari 460 pasien dan tenaga medis tewas di bekas rumah sakit anak-anak akibat serangan yang terjadi selama penguasaan RSF.

Peneliti dari Universitas Yale melalui Humanitarian Research Lab (HRL) menemukan dugaan kuburan massal di beberapa titik di kota tersebut berdasarkan citra satelit.

Mereka mengidentifikasi dua area gangguan tanah yang konsisten dengan situs penguburan massal, termasuk di area masjid dan bekas Rumah Sakit Anak. Parit-parit panjang dan hilangnya gugusan objek yang menyerupai tubuh juga menjadi indikasi adanya pemindahan jenazah secara sistematis.

“Pembuangan atau pemindahan jenazah juga terpantau di Rumah Sakit Al-Saudi melalui citra satelit,” tulis laporan HRL.

Image Slide 1