Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

PBB: Krisis Makanan Gaza Memburuk, Stok Bantuan Tak Seimbang dengan Kebutuhan

×

PBB: Krisis Makanan Gaza Memburuk, Stok Bantuan Tak Seimbang dengan Kebutuhan

Sebarkan artikel ini
Kondisi Gaza / foto: tangkapan layar x

Solusiindonesia.com — Meskipun pengiriman bantuan ke Jalur Gaza meningkat sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober, PBB menegaskan bahwa situasi kemanusiaan di wilayah yang hancur akibat serangan Israel itu masih berada pada level kritis.

Warga Palestina di seluruh Gaza masih menghadapi kelaparan, kekurangan air bersih, obat-obatan, dan akses tempat tinggal layak.

Mengutip dari Al Jazeera, Juru bicara PBB, Farhan Haq, mengatakan kepada wartawan bahwa PBB dan mitra humaniternya telah berhasil menyalurkan 37.000 metrik ton bantuan, sebagian besar berupa makanan, sejak dimulainya gencatan senjata, Jumat (07/11/2025)

Namun, menurut laporan OCHA, volume itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat setiap hari.

“Meskipun ada kemajuan signifikan dalam peningkatan skala kemanusiaan, kebutuhan mendesak masyarakat masih sangat besar, karena hambatan belum diatasi dengan cukup cepat sejak gencatan senjata,” ujar Haq.

Haq juga mengkritik pembatasan yang diberlakukan Israel, karena bantuan hanya diizinkan masuk melalui dua penyeberangan al-Karara (Kissufim) dan Karem Abu Salem (Kerem Shalom).

Tidak ada akses langsung ke Gaza utara dari Israel ataupun ke Gaza selatan dari Mesir, dan staf LSM ditolak aksesnya.

Program Pangan Dunia (WFP) kembali menegaskan bahwa semua titik penyeberangan harus dibuka agar bantuan dapat mengalir lebih cepat ke wilayah Gaza yang dilanda kelaparan.

PBB sebelumnya juga telah mendistribusikan paket makanan untuk satu juta orang, namun menyebut situasinya sebagai “perlombaan menyelamatkan nyawa.”

Kondisi di lapangan semakin memperburuk situasi: ribuan rumah dan lingkungan warga telah hancur total akibat pemboman Israel selama dua tahun terakhir, membuat banyak keluarga tidak memiliki tempat berlindung.

Chris Gunness, mantan juru bicara UNRWA, mengecam tindakan Israel yang membatasi bantuan.

“Israel telah memperjelas bahwa mereka ingin melakukan genosida terhadap Palestina, mereka ingin melakukan pembersihan etnis, dan mereka ingin membuat mereka kelaparan,” ujarnya

Gencatan senjata 10 Oktober disepakati dalam rencana 20 poin yang ditengahi AS. Namun, serangan Israel terus terjadi meskipun kesepakatan gencatan senjata masih berlaku.

Pasukan Israel masih berada di lebih dari 50 persen wilayah Gaza, dan menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 220 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata diumumkan.

Selain itu, Israel juga melakukan pembongkaran bangunan di wilayah yang mereka kuasai. Pada Jumat (07/11/ 2025)

Di tengah situasi yang terus memburuk, kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengonfirmasi bahwa Israel menerima jenazah salah satu dari enam tawanan terakhir yang ditahan Hamas.

Militer Israel menyebut peti jenazah telah dibawa ke fasilitas forensik di Tel Aviv untuk proses identifikasi.

Image Slide 1