Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Seruan Persatuan Paus Leo Menggema di Beirut, di Tengah Ketegangan dan Krisis Pengungsi

×

Seruan Persatuan Paus Leo Menggema di Beirut, di Tengah Ketegangan dan Krisis Pengungsi

Sebarkan artikel ini
momen Paus Leo XIV mendarat di Beirut, Lebanon, dan disambut oleh Presiden Joseph Aoun dengan istri serta para pejabat lainnya / foto: tangkapan layar

Solusiindonesia.com — Paus Leo pada hari kedua kunjungannya ke Lebanon kembali menekankan pentingnya “koeksistensi”, dengan mengumpulkan para pemuka agama dari berbagai aliran di negara yang masih dibayangi ketegangan sektarian.

Paus Leo akan berada di Lebanon selama empat hari sejak minggu (30/11/2025).

Dalam pesannya, ia menyerukan persatuan di tengah masyarakat yang selama beberapa dekade terpecah akibat kekerasan.

Mengutip dari Aljazeera, suasana di Lapangan Martir lokasi yang dahulu menjadi garis pemisah antara wilayah Muslim dan Kristen saat perang saudara 1975–1990 menjadi panggung utama seruan tersebut.

Di tempat simbolis itu, Paus Leo menegaskan bahwa “ketakutan, ketidakpercayaan, dan prasangka bukanlah kata akhir” bagi masa depan Lebanon.

“Pada zaman ketika koeksistensi tampak jauh dari kenyataan, rakyat Lebanon, meski menganut keyakinan berbeda, membuktikan bahwa persatuan dan rekonsiliasi adalah mungkin,” ujarnya.

Ia bahkan berharap setiap lonceng gereja, adzan, dan panggilan salat dapat berpadu “menjadi satu himne yang agung”.

Lapangan Martir, yang dahulu dibangun untuk mengenang para pejuang kemerdekaan Lebanon dan kemudian berubah menjadi pusat demonstrasi rakyat, kembali menjadi simbol pencarian jalan keluar dari sekat-sekat sektarianisme.

Jurnalis Aljazeera, Zeina Khodr, mencatat kontras yang muncul: “Para pemimpin agama tampak berbicara dengan satu suara, tetapi kenyataannya ini adalah negara yang sangat terpecah.”

Kedatangan Paus Leo juga menandai perjalanan internasional pertamanya sebagai Paus, yang turut mencakup kunjungan ke Turki.

Sehari sebelumnya, ia bertemu dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun, satu-satunya kepala negara Kristen di dunia Arab, dan menyampaikan pidato kepada para diplomat di Istana Kepresidenan.

Di hari yang sama, Paus Fransiskus mengunjungi makam Santo Charbel sebelum bertolak ke Harissa, sebuah situs ziarah di lereng bukit yang menghadap ke Laut Tengah.

Ribuan orang menyambut kedatangannya dengan seruan “Viva il Papa”. Sekitar 15.000 anak muda juga hadir di markas Gereja Katolik Maronit untuk mendengarkan pesan harapan dari Paus berusia 70 tahun tersebut.

“Di dalam diri kalian ada harapan yang hampir hilang dari kami, orang dewasa,” katanya.

Lebanon, rumah bagi salah satu komunitas Kristen terbesar di Timur Tengah sekitar 30 persen dari penduduknya memiliki keragaman agama yang mencakup Muslim Syiah dan Sunni, serta kelompok Alawi dan Druze.

Para pemimpin dari seluruh sekte besar hadir dalam pertemuan lintas agama, termasuk perwakilan dari komunitas yang terdampak konflik di Suriah.

Sheikh Ali al-Khatib, Wakil Ketua Dewan Tinggi Syiah Islam, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Paus, namun mengingatkan bahwa luka akibat “serangan Israel yang terus-menerus” masih membekas, menurut laporan media lokal.

Di tengah pesan persatuan yang dibawanya, Lebanon masih menghadapi ketegangan regional. Hizbullah mulai melancarkan serangan roket ke Israel pada 8 Oktober 2023 sebagai bentuk solidaritas terhadap Gaza, yang kemudian memicu eskalasi besar pada 2024.

Meski gencatan senjata berlaku sejak November 2024, Israel masih melakukan serangan lintas batas yang menewaskan lebih dari 300 orang di Lebanon, termasuk 127 warga sipil, berdasarkan data PBB. Negara ini juga terus menampung sekitar satu juta pengungsi Suriah dan Palestina.

Pada hari Selasa (02/12/2025), Paus Leo dijadwalkan mengunjungi lokasi ledakan pelabuhan Beirut 2020 sebelum memimpin misa besar di kawasan tepi laut bersejarah kota tersebut.

Image Slide 1