Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Make America Manufacture Again’? Tarif Trump Malah Ancam PHK Massal, Pasar Kerja AS Kian ‘Mati Suri’

×

Make America Manufacture Again’? Tarif Trump Malah Ancam PHK Massal, Pasar Kerja AS Kian ‘Mati Suri’

Sebarkan artikel ini
Presiden Amerika Donald Trump/Instagram

Solusiindonesia.com — Ambisi Presiden AS Donald Trump untuk mengembalikan kejayaan industri dan pabrik ke “Negeri Paman Sam” melalui kebijakan tarif impor masif nampaknya akan berbalik menjadi senjata makan tuan.

Ironisnya, alih-alih mencetak jutaan lapangan kerja baru, kebijakan ‘cinta buta’ terhadap proteksionisme ini justru diprediksi bakal memicu badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada 2026 mendatang.

​Para eksekutif perusahaan dan ekonom kini kompak mengkhawatirkan bahwa obat pahit bernama tarif ini akan membuat pasar tenaga kerja AS kian ‘mati suri,’ atau dalam bahasa survei, berada di fase tanpa pemecatan, namun juga tanpa perekrutan.

​Biaya Operasional Mencekik, Karyawan Jadi Tumbal Efisiensi
​Kegelisahan ini bukan isapan jempol semata. Kekhawatiran mengenai tarif impor Trump yang melonjak telah memicu kenaikan biaya operasional yang mencekik. Akibatnya, perusahaan-perusahaan di AS terpaksa mengambil langkah drastis demi efisiensi, dan seperti biasa, karyawanlah yang menjadi tumbal pertama.

​”Kami mulai menerapkan perubahan yang lebih permanen karena lingkungan tarif,” keluh seorang eksekutif perusahaan peralatan transportasi dalam survei terbaru dari Institute for Supply Management (ISM), seperti dilansir CNBC, Rabu (3/12/2025).

​”Ini mencakup pengurangan staf, panduan baru bagi pemegang saham, dan pengembangan manufaktur lepas pantai tambahan yang seharusnya ditujukan untuk ekspor AS,” tambahnya.

​Ya, Anda tidak salah dengar. Demi menghindari biaya impor Trump yang mahal, perusahaan justru terpaksa memindahkan pabriknya ke luar negeri—sebuah ironi telak bagi kebijakan yang konon bertujuan “Make America Manufacture Again.”

​Lebih Sulit dari Krisis COVID?
​Ketidakpastian yang ditimbulkan oleh perang dagang ini bahkan dianggap lebih buruk daripada masa kelam pandemi COVID-19.

​”Kondisi saat ini lebih sulit dibandingkan dengan masa pandemi virus corona dalam hal ketidakpastian rantai pasokan,” ungkap seorang manajer di sektor peralatan, perkakas, dan komponen listrik yang juga menjadi responden survei ISM.

​Hal ini mengindikasikan bahwa masalah tarif yang tidak menentu telah menciptakan iklim bisnis yang lebih beracun daripada krisis kesehatan global yang melumpuhkan ekonomi.

​Sinyal Bahaya dari Indeks Manufaktur
​Data terbaru dari ISM memperkuat kekhawatiran ini. Indeks manufaktur per November 2025 tercatat di angka 48,2%. Angka ini berada di bawah batas minimal 50% yang mengindikasikan kontraksi atau penyusutan bisnis dan industri di AS.

​Lebih mengkhawatirkan lagi, indikator ketenagakerjaan dalam survei tersebut anjlok 2 poin menjadi 44%. Ini adalah angka terendah sejak Agustus dan konsisten dengan tren pelemahan pasar tenaga kerja yang terus merosot.

​Nampaknya, resep proteksionisme ala Trump ini, yang dijanjikan sebagai jaminan kemakmuran, justru sedang memasak krisis lapangan kerja baru, membuktikan pepatah lama: seorang dokter harus tahu batasnya, jangan sampai obat yang diberikan justru meracuni pasien.

7

Image Slide 1