Solusiindonesia.com — Pembicaraan maraton selama lima jam antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan dua negosiator utama Presiden AS Donald Trump berakhir tanpa terobosan berarti dalam upaya mendorong tercapainya kesepakatan damai untuk Ukraina. Pada Selasa (02/12/2025)
dikutip dari BBC, dalam pernyataan resminya, juru bicara Kremlin menyebut dialog di Moskow berlangsung “konstruktif”, namun sejumlah poin dalam rancangan kesepakatan yang diajukan AS masih ditolak oleh Rusia.
Delegasi AS yang dipimpin utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner datang setelah rangkaian diplomasi intensif beberapa minggu terakhir. Hingga kini, pihak AS belum memberikan komentar usai meninggalkan Moskow.
Sebelum pertemuan, Putin menegaskan bahwa perubahan yang diusulkan Kyiv dan negara-negara Eropa terhadap draft perjanjian yang didukung Washington tidak dapat diterima. Ia bahkan menyinggung bahwa jika Eropa memilih konfrontasi, “Rusia siap sekarang juga.”
Ukraina dan para sekutunya gencar mendorong AS untuk mengubah draft perjanjian damai, meski Gedung Putih sebelumnya telah berupaya mempercepat persetujuan, dan Kremlin sempat memberi sinyal positif terhadap beberapa revisi. Draf yang sempat bocor November lalu disebut cenderung menguntungkan Rusia.
Usai pertemuan di Moskow, penasihat senior Putin, Yuri Ushakov, mengatakan bahwa sebagian poin telah disetujui tetapi sebagian lainnya dikritik tajam.
“Belum ada versi kompromi pekerjaan masih banyak,” katanya.
Salah satu sengketa terbesar adalah terkait wilayah Ukraina yang masih dikuasai Kyiv serta bagaimana jaminan keamanan dari Eropa akan dirancang.
Putin juga mengulang kritiknya terhadap pemimpin-pemimpin Eropa yang dianggap masih terjebak ilusi bahwa Rusia dapat dikalahkan secara strategis. Ia menegaskan Rusia tidak berniat berperang dengan Eropa, tetapi siap jika konfrontasi dipaksakan.
Dari sisi Ukraina, Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan ia berharap memperoleh penjelasan dari tim AS setelah perundingan tersebut. Zelensky menilai peluang untuk mengakhiri perang “kini lebih besar dari sebelumnya”, tetapi sejumlah aspek kunci proposal masih membutuhkan perbaikan.
“Semuanya bergantung pada pembahasan hari ini,” ujarnya saat konferensi pers di Irlandia.
Ia kembali menegaskan tidak ada solusi sederhana dan Ukraina harus tetap terlibat langsung dalam tiap diskusi perdamaian, termasuk tuntutan jaminan keamanan seperti keanggotaan NATO yang ditolak Rusia dan tidak menjadi prioritas Trump.
Delegasi Ukraina sebelumnya telah menggelar dua putaran pembicaraan tingkat tinggi terkait draft tersebut, bersama Witkoff, Kushner, dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Gedung Putih menyebut draft kini telah “disempurnakan,” walau rincian final belum dipublikasikan.








