Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Trump Klaim Perannya Kunci dalam Pemulihan Damai Thailand–Kamboja

×

Trump Klaim Perannya Kunci dalam Pemulihan Damai Thailand–Kamboja

Sebarkan artikel ini
Presiden Amerika Serikat, Donald trump / foto: instagram

Solusiindonesia.com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa para pemimpin Thailand-Kamboja telah sepakat memperbarui gencatan senjata, menyusul bentrokan mematikan selama beberapa hari yang sempat mengancam runtuhnya kesepakatan damai sebelumnya. Pada Jumat (12/12/2025)

dikutip dari AP News, Kesepakatan untuk kembali memberlakukan gencatan senjata Thailand-Kamboja diumumkan Trump melalui unggahan media sosial usai melakukan pembicaraan via telepon dengan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet,

“Mereka telah setuju untuk MENGHENTIKAN semua penembakan mulai malam ini, dan kembali ke Perjanjian Damai asli yang dibuat dengan saya, dan mereka, dengan bantuan Perdana Menteri Malaysia yang hebat, Anwar Ibrahim,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.

Hingga pengumuman tersebut disampaikan, pejabat Thailand maupun Kamboja belum memberikan pernyataan resmi.

Sebelumnya, Anutin sempat mengatakan kepada Trump bahwa Thailand tetap akan mempertahankan sikap tegas selama Kamboja masih dianggap mengancam kedaulatan negaranya.

Trump menegaskan bahwa Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim memainkan peran penting dalam mendorong kedua negara kembali menghentikan pertempuran. Ia menyebut upaya tersebut berhasil mencegah konflik yang berpotensi berkembang menjadi perang besar.

“Merupakan kehormatan bagi saya untuk bekerja sama dengan Anutin dan Hun dalam menyelesaikan apa yang berpotensi berkembang menjadi perang besar antara dua negara yang luar biasa dan makmur,” ujar Trump.

Gencatan senjata awal antara Thailand dan Kamboja tercapai pada Juli lalu melalui mediasi Malaysia, setelah pemerintahan Trump menekan kedua pihak dengan ancaman pembatasan fasilitas perdagangan. Kesepakatan tersebut kemudian diformalkan lebih lanjut pada Oktober dalam pertemuan regional di Malaysia yang juga dihadiri Trump.

Meski demikian, ketegangan tidak sepenuhnya mereda. Kedua negara masih terlibat perang propaganda, sementara insiden kekerasan lintas batas berskala kecil terus terjadi di wilayah perbatasan.

Konflik Thailand-Kamboja berakar dari sengketa wilayah yang telah berlangsung lama, terutama terkait peta tahun 1907 yang dibuat pada masa kolonial Prancis.

Ketegangan semakin diperparah oleh putusan Mahkamah Internasional tahun 1962 yang memberikan kedaulatan wilayah sengketa kepada Kamboja, keputusan yang hingga kini masih menuai penolakan di Thailand.

Dalam eskalasi terbaru, Thailand mengerahkan jet tempur untuk menyerang target yang disebut sebagai sasaran militer, sementara Kamboja menggunakan peluncur roket BM-21 dengan jangkauan hingga 40 kilometer. Data ThaiPBS mencatat sedikitnya enam tentara Thailand tewas akibat serpihan roket.

Militer Thailand juga melaporkan kerusakan pada kawasan permukiman di dekat perbatasan akibat tembakan roket Kamboja. Selain itu, pasukan Thailand mengklaim telah menghancurkan sebuah derek tinggi di kawasan kuil Preah Vihear karena diduga digunakan untuk kepentingan komando dan kendali militer.

Trump kembali menegaskan klaimnya bahwa ia telah membantu menyelesaikan sejumlah konflik internasional sejak kembali menjabat pada Januari. Ia juga tidak menutup keinginannya untuk mendapatkan pengakuan internasional, termasuk Hadiah Nobel Perdamaian.

“Saya rasa kita sudah menyelesaikannya hari ini,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih. “Thailand dan Kamboja dalam kondisi baik.”

Namun, sejumlah kesepakatan damai lain yang diklaim Trump masih menghadapi tantangan, termasuk konflik di Republik Demokratik Kongo dan Rwanda, serta rencana perdamaian Israel-Hamas di Gaza yang hingga kini belum sepenuhnya terealisasi.

Image Slide 1