Penulis adalah alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan saat ini sebagai dosen di Universitas Al-Qolam
Solusiindonesia.com — “Angkat tangan, dan serahkan semua harta kekayaanmu, atau aku bunuh kamu” ancam seorang perampok kepada pemilik rumah sambil menodongkan pistol ke arahnya…
Dengan suara bergetar, penuh rasa takut dan pasrah, tuan rumah berkata sambil mengangkat kedua tangannya, ” baiklah Aku menyerah dan ambil semuanya asal jangan kau bunuh Aku”.
Dalam peristiwa tersebut kita bisa melihat ada satu gerakan yang bisa dimaknai sebagai gerakan menyerah dengan pasrah, yaitu gerakan mengangkat kedua tangan.
Gerakan ini sama dengan gerakan kalau kita hubungankan dengan ketika kita memulai sholat, pertama yang dilakukan adalah mengangkat kedua tangan sambil membaca takbir yang kemudian disebut takbiratul ihram, setelah itu membaca bacaan iftitah yang didalamnya ada kalimat penyerahan total dan ketundukan kita kepada Allah SWT, Inna sholaty wanusuky wamahyaya wamamati lilahi robbil ‘alamin.
Artinya apa? bahwa ketika kita sholat maka kita harus pasrah, tunduk secara total kepada Allah SWT, fokus mengingatNya, tidak ada yang di inggat selain Allah SWT.
Sholat seperti inilah yang menurut ulama adalah sholat yang di terima oleh Allah SWT
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Artinya:
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya.
Sebaliknya sholatnya orang yang tidak khusu, karena riya’, bermalas malasan, maka tidak akan diterima dan bahkan akan celaka
QS. Al-Ma’un ayat 4–5
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
Artinya:
Maka celakalah orang-orang yang sholat, (yaitu) mereka yang lalai terhadap sholatnya.
QS. An-Nisa ayat 142
Artinya:
Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas, bermaksud riya kepada manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit.
وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
Hakikatnya peristiwa Isra’ mikraj adalah peristiwa dimana perintah sholat didirikan, tidak hanya sholat sebagai ritual untuk menggugurkan kewajiban, tetapi sholat yang penuh dengan kepasrahan, ketundukan dan tidak ada yang di ingat selain Allah SWT.
Tapi faktanya, seringkali kita sholat hanya sebagai ritual untuk menggugurkan kewajiban semata, dan ketika sholat pun kita tidak ingat Alloh sama sekali, kalau pun ingat itu hanya sedikit. Yang kita ingat adalah dunia dan segala isinya.
Maka, peristiwa Isra’ mikraj akan mempunyai maka yang lebih mendalam apabila sholat kita dipenuhi dengan kepasrahan dan ketertundukan total kepada Alloh, itulah cara kita memaknai peristiwa Isra’ mikraj, tidak hanya diperingati dengan kegiatan kegiatan ceremonial belaka dan ucapan selamat belaka,
Namun ada impact positif ketika kita sedang maupun setelah mendirikan sholat.
Impact positif apa yang harusnya hadir setelah kita mendirikan shalat dengan benar?
Impact positifnya termaktub dalam
Surat Al-‘Ankabut ayat 45:
اُتْلُ مَا أُوْحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ ۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Artinya:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sungguh, mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Lalu ada orang bertanya, kalau begitu kita tidak usah sholat saja kalau tidak khusu’, karena percuma tidak akan di terima. Tidak seperti itu mendialegtikakannya, kita harus tetap mendirikan sholat walupun tidak khusu’, kenapa? Karena itu adalah perintah Alloh. Perkara kita khusyuk dan tidak, diterima atau tidak bukanlah wilayah kita, tapi wilayah Alloh yang menilainya.
Rahmat Alloh itu lebih luas dari murkaNya, Alloh masih mengasihi orang orang yang mau bersujud kepada-Nya. Karena sholat yang di dalamnya ada gerakan Sujud adalah bentuk penghambaan kita sebagai Makhluk kepada sang Kholiq. Wallohu a’lam bisshowab.
Melalui goresan pemikiran berjudul “Perintah Sholat di Balik Peristiwa Isra’ Mi’raj,” penulis mengajak kita menyelami makna batiniah dari rukun Islam yang paling utama dengan analogi yang sangat membumi. Artikel ini tidak sekadar mengulas sejarah perjalanan agung Nabi Muhammad SAW, melainkan membedah hakikat gerakan takbiratul ihram sebagai simbol penyerahan diri total—sebuah kepasrahan mutlak layaknya seorang hamba yang tak lagi memiliki daya di hadapan Sang Khalik.
Dengan narasi yang menyentil realitas ibadah kita sehari-hari, tulisan ini menjadi pengingat penting bahwa inti dari peringatan Isra’ Mi’raj bukanlah pada seremonialnya, melainkan pada transformasi kualitas shalat yang mampu menghadirkan kekhusyukan dan ketundukan hati yang sejati.








