Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Khazanah

Tanda Puasa Diterima Allah SWT: Ustadz Abdul Somad Jelaskan Pentingnya Perubahan Akhlak

×

Tanda Puasa Diterima Allah SWT: Ustadz Abdul Somad Jelaskan Pentingnya Perubahan Akhlak

Sebarkan artikel ini
Pendakwah Ustadz Abdul Somad. Foto: Instagram

Solusiindonesia.com — Memasuki bulan suci Ramadhan 2026, setiap Muslim tentu berharap ibadah puasanya tidak sekadar menjadi ritual menahan lapar dan haus, melainkan diterima di sisi Allah SWT sebagai amal saleh. Namun, bagaimanakah kita mengetahui apakah puasa kita telah mencapai derajat maqbul (diterima)?

Pendakwah terkemuka, Ustadz Abdul Somad (UAS), memberikan penjelasan mendalam mengenai indikator keberhasilan seorang hamba dalam menjalankan ibadah di “Madrasah Ramadhan”. Menurut lulusan Universitas Al-Azhar ini, kunci utamanya bukanlah pada seberapa kuat fisik menahan lapar, melainkan pada perubahan nyata dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Indikator Utama: Transformasi Akhlakul Karimah
UAS menegaskan bahwa ibadah yang diterima akan membuahkan hasil berupa transformasi diri. Ramadhan sejatinya adalah proses pembiasaan fisik dan mental, bukan sekadar “berkemah amal” sesaat.

“Tanda ibadah itu diterima ada perubahan. Yang sebelumnya pelit menjadi dermawan, yang sebelumnya emosional menjadi bijaksana, dan yang sebelumnya kasar menjadi lembut bertata krama,” ujar UAS dalam sebuah sesi wawancara.

Beberapa poin perubahan signifikan yang menjadi ciri puasa seseorang berhasil antara lain:

  • Kelembutan Lidah: Berhentinya lisan dari ghibah (menceritakan aib orang) dan kata-kata kasar, berganti dengan tutur kata yang sopan dan penuh zikir.
  • Hati yang Terpaut pada Masjid: Timbulnya kerinduan untuk memakmurkan rumah Allah, bahkan sebelum waktu shalat tiba.
  • Disiplin Spiritual: Terbiasa menjaga shalat berjamaah, terutama shalat Subuh, serta konsisten menghidupkan malam dengan shalat Tarawih dan Tahajud.

Mencapai Derajat Takwa sebagai Tujuan Hakiki
Merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 183, UAS mengingatkan bahwa tujuan akhir dari kewajiban puasa adalah agar umat Islam menjadi pribadi yang bertakwa.
(Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa).

Ketakwaan ini, menurut UAS, terwujud dalam bentuk rasa “takut” yang positif—takut jika melakukan maksiat, takut memakan yang bukan haknya, hingga takut memandang hal-hal yang tidak diridhai Allah SWT.

Ramadhan Sebagai Bulan Pembiasaan Diri
Lebih lanjut, UAS memaparkan bahwa puasa Ramadhan melatih kedisiplinan tingkat tinggi. Bangun untuk sahur dan menjaga waktu berbuka adalah latihan ketepatan waktu yang luar biasa bagi seorang Muslim.

Dengan menjaga konsistensi ibadah selama sebulan penuh, diharapkan nilai-nilai kebaikan tersebut tidak luntur saat Ramadhan berakhir, melainkan menjadi karakter permanen bagi setiap individu.