Solusiindonesia.com — Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Kidal, Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang menunjukkan kematangan berorganisasi dalam gelaran Musyawarah Ranting (Musran) yang berlangsung di Aula Yayasan Bukit Shofa Malang, pada Jumat (16/1/2026). Selain sebagai ajang regenerasi, forum ini menjadi momentum sakral untuk meneguhkan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam menentukan nakhoda baru.
AHWA: Musyawarah di Atas Segalanya
Puncak Musran kali ini menonjolkan tradisi luhur NU, yakni mekanisme AHWA. Melalui sistem ini, pemilihan pemimpin tidak didasarkan pada kompetisi terbuka yang pragmatis, melainkan melalui mandat tim formatur yang terdiri dari para ulama terpilih.
Berdasarkan hasil pemungutan suara yang transparan, tim AHWA yang terbentuk akhirnya bermufakat menetapkan duet kepemimpinan baru untuk masa khidmat mendatang:
- Ust. A. Taufiq, S.Pd. sebagai Rais Syuriah.
- Ust. Z. Arifin, S.Pd.I. sebagai Ketua Tanfidziyah.
Kombinasi ini dinilai ideal untuk menyinergikan peran Syuriah sebagai pengawal ideologi dan Tanfidziyah sebagai eksekutif yang menjalankan roda program organisasi di tingkat desa.
Mekanisme Vital Regenerasi
Ketua Tanfidziyah MWC NU Tumpang, KH Abdullah Kamal, memberikan penekanan khusus mengenai urgensi forum ini. Menurutnya, Musran adalah jantung organisasi yang memastikan denyut perjuangan NU tetap hidup di lapisan masyarakat paling bawah.
“Musran ini merupakan forum permusyawaratan tertinggi di tingkat desa atau ranting yang diadakan lima tahun sekali. Fungsinya krusial: mengevaluasi kinerja pengurus lama, menetapkan program kerja lima tahun ke depan, serta memilih pengurus baru,” ujar KH Abdullah Kamal.
Beliau menambahkan bahwa keberhasilan Musran di tingkat ranting adalah indikator kesehatan organisasi secara keseluruhan.
“Musran adalah mekanisme vital untuk regenerasi dan konsolidasi organisasi NU di tingkat yang paling bawah. Harapannya, ke depan akan hadir kader-kader NU yang lahir dan berjuang dari tingkat bawah, sehingga mereka benar-benar mengetahui kondisi akar rumput organisasi,” tegasnya.
Legitimasi dan Penguatan Ideologis
Hadirnya jajaran pimpinan Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Tumpang memberikan legitimasi kuat pada prosesi ini. Kehadiran para pimpinan tingkat kecamatan ini menegaskan konsep “sambung sanad” organisasi, memastikan bahwa setiap kebijakan di tingkat desa tetap selaras dengan visi besar Nahdlatul Ulama dalam membentengi paham Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Dengan nakhoda baru dan program kerja yang telah dirumuskan, PRNU Desa Kidal kini bersiap menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks dengan tetap berpijak pada kebutuhan jemaah di akar rumput. (*)








