Solusiindonesia.com — Stabilitas pangan Kota Malang di ujung tanduk. Pasokan sapi potong ke wilayah ini dilaporkan semakin langka dalam sebulan terakhir, memicu lonjakan harga daging sapi segar hingga Rp10.000 per kg, mencapai Rp140.000 per kg di pasaran.
Situasi ini bukan hanya meresahkan konsumen, tetapi juga mengancam kelangsungan usaha jagal lokal dan industri bakso yang merupakan ikon kuliner nasional.
Jagal Menjerit: Harga Sapi Hidup Naik 10%
Keresahan datang langsung dari hulu. H. Edy Abdurahman, Ketua HPMI Seksi Jagal Kota Malang, mengungkapkan bahwa harga sapi hidup telah melonjak 10 hingga 15 persen dari bulan sebelumnya. Kenaikan drastis ini membuat para jagal merugi nyata.
“Dengan kenaikan harga sapi hidup seperti ini, banyak jagal yang mengeluh merugi. Margin usaha semakin tipis,” ujar H. Edy, menyerukan perhatian pemerintah.
Kota Bakso Terbesar Terancam: Potensi PHK Massal
Sebagai ‘Kota Bakso Terbesar di Indonesia’, Malang memiliki ribuan pelaku usaha yang sangat bergantung pada ketersediaan daging sapi segar yang stabil. Dr. H. Indra Permana, Anggota Komisi B DPRD Kota Malang dan Wakil Ketua Fraksi PKS, memperingatkan dampak domino dari krisis ini.
“Bila rantai suplai terganggu dan harga tidak dikendalikan, berpotensi terjadi PHK besar-besaran pada sektor industri bakso yang menyerap banyak tenaga kerja non-formal,” tegas Dr. Indra, menggarisbawahi urgensi intervensi.
Seruan Dr. Indra Permana: Ini Situasi Darurat Pangan
Menyikapi krisis ini, Dr. H. Indra Permana menilai kondisi ini sebagai ‘situasi darurat pasokan pangan’. Ia menekankan agar Pemkot Malang harus hadir, mendengar, dan bertindak cepat sebelum dampak ekonomi dan sosial meluas.
6 Solusi Konkret Sang Legislator untuk Stabilitas Harga
Dr. Indra Permana tidak hanya melontarkan kritik, namun juga menawarkan enam langkah solutif yang realistis:
* Koordinasi Cepat Suplai: Membangun kemitraan intensif dengan daerah penghasil sapi untuk memastikan pasokan stabil ke Malang.
* Intervensi BUMD: Mengaktifkan BUMD Pangan (seperti BUMD Tunas) sebagai instrumen intervensi harga dan penguatan stok cadangan pangan.
* Awasi Distribusi: Mengawasi rantai distribusi secara ketat untuk mencegah penimbunan atau permainan harga.
* Forum Monitoring: Membentuk ruang dialog rutin (forum monitoring) antara jagal, pelaku bakso, dan pemerintah.
* Peternakan Lokal: Mendorong pengembangan sentra peternakan lokal agar Malang mandiri pasokan jangka panjang.
* Pendekatan Win–Win: Menggunakan pendekatan yang menjamin jagal tidak merugi, konsumen terlindungi, dan harga tetap terkendali.
Dr. Indra Permana menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen untuk berkolaborasi. “Saya hadir bukan hanya untuk mengkritik, tapi untuk mencari jalan keluar bersama. Kota ini harus aman dari gejolak harga pangan, dan para jagal harus tetap bisa bekerja dengan tenang,” pungkasnya.








