Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Nasional

Berpulangnya Romo Mudji Sutrisno, Suara Filsafat dan Seni Indonesia

×

Berpulangnya Romo Mudji Sutrisno, Suara Filsafat dan Seni Indonesia

Sebarkan artikel ini
Romo Mudji Sutrisno / foto: facebook (Romo Mudji Sutrisno)

Solusilndonesia.com — Kabar duka datang dari dunia intelektual, seni, dan Gereja Katolik Indonesia. Imam Yesuit sekaligus budayawan dan pemikir terkemuka, Romo Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, wafat pada Minggu, (28/12/2025)

Romo Mudji Sutrisno, meninggal dunia pada pukul 20.43 WIB di Rumah Sakit Carolus, Jakarta, setelah menjalani perawatan akibat sakit, dalam usia 71 tahun.

Informasi wafatnya Romo Mudji disampaikan secara resmi oleh Ketua Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Pastor Simon Lili Cahyadi. Kepergian Romo Mudji meninggalkan rasa kehilangan mendalam, tidak hanya bagi komunitas Gereja, tetapi juga bagi kalangan akademisi, seniman, dan pegiat kebudayaan yang selama ini bersentuhan dengan pemikiran dan karya-karyanya.

Selama hidupnya, Romo Mudji dikenal sebagai figur intelektual lintas bidang yang konsisten merawat dialog antara iman, seni, dan realitas sosial. Ia meyakini bahwa iman tidak berhenti pada ruang ritual, melainkan harus hadir dan berbicara dalam dinamika kebudayaan serta pergulatan manusia sehari-hari.

Romo Mudji lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 12 Agustus 1954. Sejak masa muda, ia telah merasakan panggilan imamat yang berangkat dari keinginannya untuk dekat dengan kehidupan manusia dan berbagai persoalan kemanusiaan. Panggilan tersebut kemudian membentuk perjalanan hidupnya sebagai rohaniwan yang aktif terlibat dalam isu sosial dan kebudayaan.

Sebagai seorang akademisi, Romo Mudji menempuh pendidikan filsafat hingga meraih gelar doktor dari Universitas Gregoriana, Roma, Italia. Bekal akademik tersebut menjadikannya sosok pemikir yang tajam, kritis, sekaligus reflektif dalam membaca situasi sosial Indonesia.

Di dunia literasi, Romo Mudji dikenal sebagai penulis yang produktif. Ia menghasilkan beragam esai, refleksi rohani, dan karya sastra yang menempatkan iman dalam konteks kebangsaan dan kemanusiaan.

Karya Seni Romo Mudji

Sejumlah bukunya yang dikenal luas antara lain “Krisis Peradaban” (2013), “Esai-Esai untuk Negeri” (2015), “Tu(l)ah Kata” (2018), “Rekah Puisi” (2019), serta “Sunyi yang Berbisik” dan “Oase” yang terbit pada 2020. Selain itu, ia juga menulis karya penting seperti “Teori-teori Kebudayaan” (2005) dan “Driyarkara: Filsuf yang Mengubah Indonesia” (2006).

Tidak hanya melalui tulisan, Romo Mudji juga mengekspresikan pengalaman spiritual dan refleksi imannya lewat medium seni rupa, khususnya sketsa. Baginya, sketsa adalah bentuk bahasa batin ketika kata-kata tidak lagi mampu menjelaskan pengalaman terdalam manusia dengan Tuhan. Karya-karyanya kerap menampilkan kesederhanaan garis yang sarat makna kontemplatif.

Berbagai pameran seni pernah digelarnya, antara lain “Dari Stupa ke Stupa” (2014) di Taman Ismail Marzuki, “Paskah Gabah: Via Crucis” (2016), serta “Kumandang ing Sepi” (2017–2018). Pameran terakhirnya bertajuk “Dari Gereja ke Gereja”, yang menampilkan 55 sketsa gereja di Jakarta, digelar pada September 2025.

Dedikasi dalam Pendidikan dan Keterlibatan Publik

Dalam dunia pendidikan, Romo Mudji mengabdikan diri sebagai dosen filsafat di STF Driyarkara Jakarta, Universitas Indonesia, serta Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Ia dikenal sebagai pengajar yang dekat dengan mahasiswa dan aktif membuka ruang dialog mengenai etika, kemanusiaan, dan tanggung jawab iman dalam kehidupan modern.

Di luar dunia akademik, Romo Mudji sempat terlibat dalam ranah publik sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2001–2003. Namun, ia kemudian memilih mengundurkan diri untuk kembali fokus pada dunia pendidikan, sebuah keputusan yang mencerminkan komitmennya pada pembentukan manusia dan kebaikan bersama.

Jenazah Romo Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ akan disemayamkan di Kapel Kolese Kanisius, Jakarta. Misa requiem dijadwalkan berlangsung pada Senin, 29 Desember 2025, dan Rabu, 30 Desember 2025, pukul 19.00 WIB di kapel tersebut.

Pada 30 Desember 2025 pukul 21.00 WIB, jenazah akan diberangkatkan menuju Girisonta, Semarang, Jawa Tengah. Prosesi pemakaman akan dilaksanakan pada 31 Desember 2025, diawali dengan Perayaan Ekaristi pukul 10.00 di gereja paroki setempat, sebelum dimakamkan di Taman Mari Ratu Damai, Girisonta.

Umat dan para sahabat diajak untuk mengiringi kepergian Romo Mudji dengan doa dan Ekaristi sebagai ungkapan penghormatan terakhir.

Image Slide 1