Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Nasional

Pesan Damai Presiden Prabowo di Perayaan Natal Nasional 2025: “Jangan Ada Dendam dalam Politik”

×

Pesan Damai Presiden Prabowo di Perayaan Natal Nasional 2025: “Jangan Ada Dendam dalam Politik”

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Subianto hadiri Natal Nasional. Foto: Biro setpres

Solusiindonesia.com — Presiden Prabowo Subianto membawa pesan persatuan yang kuat dalam acara Puncak Perayaan Natal Nasional 2025 di Tennis Indoor Senayan, Senin (5/1/2026). Di hadapan ribuan jemaat, Kepala Negara menekankan pentingnya politik damai dan kerelaan untuk saling memaafkan, dengan mengutip filosofi kasih dari ajaran Kristiani.

Mengutip Ajaran “Pipi Kiri, Pipi Kanan”
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyinggung filosofi hidup yang ia serap dari ajaran Alkitab (Matius 5:39) mengenai kerendahan hati. Ia menyebutkan bahwa esensi dari ajaran tersebut adalah kemampuan untuk membalas keburukan dengan kebaikan.

“Kalau tidak salah, ajaran yang paling pokok itu jika pipi kiri ditempeleng, kita harus beri pipi kanan. Artinya, kita harus bisa memaafkan,” ujar Prabowo yang disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Refleksi Masa Kecil dan Kedekatan dengan Keragaman
Prabowo juga berbagi cerita personal mengenai latar belakang keluarganya yang majemuk. Ia mengenang masa kecilnya saat mengenyam pendidikan di sekolah Kristen, yang membuatnya akrab dengan nilai-nilai toleransi sejak dini.

Sambil berkelakar, ia menyebut dirinya sangat memahami kisah-kisah di dalam Alkitab (sering disebut sebagai cerita Bible). “Jangan-jangan saya mengerti cerita-cerita di Bible lebih dari saudara-saudara sekalian,” candanya yang memicu gelak tawa jemaat.

Politik Tanpa Dendam: Belajar dari Kekalahan
Presiden menegaskan bahwa prinsip memaafkan (forgiveness) harus diimplementasikan dalam panggung politik nasional. Ia menggunakan pengalamannya sendiri sebagai contoh nyata dalam berdemokrasi.

Poin-poin penting dalam orasi Presiden:

  • Persatuan di Atas Segalanya: Mengedepankan integrasi bangsa daripada perpecahan.
  • Melupakan Kekalahan: Prabowo mengaku telah melupakan kekalahan di Pilpres terdahulu dan memilih untuk fokus membangun bangsa.
  • Menghapus Kebencian: Ia menegaskan bahwa dalam politik tidak boleh ada tempat bagi rasa sakit hati atau dendam pribadi.

“Saya ingin cari persatuan daripada perpecahan. Kita tidak boleh sakit hati, tidak boleh dendam, dan tidak boleh benci. Saya berusaha teguh pada pendirian itu,” tegasnya.

Implementasi Nilai Universal dalam Bernegara
Pesan yang disampaikan Prabowo di awal tahun 2026 ini dinilai sebagai upaya untuk meredam polarisasi yang seringkali muncul pasca-kontestasi politik. Dengan mengutip doa “Forgive us our trespasses, as we forgive those who trespass against us,” ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk memulai lembaran baru yang lebih harmonis.

Image Slide 1