Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Peristiwa

Kabar Pilu dari Timur, Yohanes Bocah SD di Ngada NTT yang Berpulang di Tengah Himpitan Kemiskinan

×

Kabar Pilu dari Timur, Yohanes Bocah SD di Ngada NTT yang Berpulang di Tengah Himpitan Kemiskinan

Sebarkan artikel ini
Kabar Pilu dari Timur, Yohanes Bocah SD di Ngada yang Berpulang di Tengah Himpitan Kemiskinan. Foto: Instagram

Solusiindonesia.com — Dunia pendidikan Indonesia berduka. Seorang bocah kelas 4 SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yohanes Bastian Roja (10), mengakhiri hidupnya sendiri. Tragedi memilukan ini diduga kuat dipicu oleh rasa putus asa akibat kondisi ekonomi keluarga yang membuatnya kesulitan memiliki perlengkapan sekolah dasar seperti buku dan pena.

Keluhan Terakhir dan Dorongan Sang Ibu
Pagi itu seharusnya menjadi hari sekolah biasa bagi Yohanes. Sang ibu, Maria Goreti Te’a (47), mengisahkan bahwa putra bungsunya sempat mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah. Namun, dengan kasih sayang seorang ibu yang ingin anaknya maju, Maria tetap mendorong Yohanes untuk tetap masuk kelas agar tidak tertinggal pelajaran.

“Saya nasihati supaya dia rajin sekolah. Saya pesankan ojek untuk antar dia ke rumah neneknya,” kenang Maria dengan nada bicara yang penuh duka. Rumah nenek Yohanes memang searah dengan jalur sekolahnya, tempat di mana Yohanes lebih banyak menghabiskan waktu sehari-harinya.

Hidup dalam Keterbatasan: Pisang, Ubi, dan Kayu Bakar
Keseharian Yohanes jauh dari kata mewah. Sebagai yatim sejak dalam kandungan, ia tumbuh dalam dekapan kemiskinan. Di pondok bambu sederhana milik neneknya yang sudah berusia 80 tahun, Yohanes belajar arti kerja keras sejak dini.

Demi menyambung hidup, Yohanes tak jarang membantu neneknya berjualan:

  • Hasil kebun: Menjual ubi dan pisang yang juga menjadi menu makan utama mereka.
  • Kayu bakar: Membantu mengumpulkan dan menjual kayu untuk biaya sehari-hari.
    Saksi mata sekaligus kerabat, Gregorius Kodo, menyebutkan bahwa Yohanes merupakan anak yang kurang mendapat perhatian penuh karena kondisi ibunya yang harus menghidupi lima orang anak sendirian dengan bekerja sebagai penjual kayu api.

Mama, Relakan Saya”: Surat Terakhir yang Menyayat Hati
Sebelum memutuskan pergi untuk selamanya, Yohanes meninggalkan jejak terakhir berupa sepucuk surat dalam bahasa daerah Ngada. Surat yang ditemukan polisi di lokasi kejadian itu menjadi bukti betapa berat beban yang dipikul pundak kecilnya.

Dalam surat tersebut, ia menuliskan kalimat perpisahan yang sangat dalam:

“Mama, saya pergi dulu. Mama, relakan saya pergi. Jangan menangis… tidak perlu Mama mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal, Mama.”

Ironisnya, permintaan terakhir Yohanes sebelum kejadian ini adalah uang untuk membeli buku dan pena. Namun, karena himpitan ekonomi yang mencekik, permintaan sederhana itu tak mampu dipenuhi oleh sang ibu.

Tragedi ini menjadi pengingat pahit bagi kita semua bahwa di balik angka-angka statistik kemiskinan, ada mimpi-mimpi anak bangsa yang terkubur karena keterbatasan akses terhadap hal paling dasar dalam pendidikan.

Peringatan Penting (Disclaimer)
Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi tindakan serupa. Bunuh diri bukanlah solusi atas masalah apa pun. Jika Anda, teman, atau keluarga menunjukkan gejala depresi, kecemasan, atau memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, segera hubungi pihak profesional.

Anda dapat menghubungi layanan kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat, Jangan menanggung beban sendirian, ada bantuan yang tersedia untuk Anda.