Solusiindonesia.com — Situasi di perbatasan Lebanon Selatan kembali membara. Dalam serangkaian operasi militer terbaru pada Senin (9/2/2026), serangan udara Israel dilaporkan menewaskan empat orang, termasuk seorang balita, serta menangkap seorang pejabat tinggi kelompok al-Jamaa al-Islamiya.
Rentetan insiden ini memicu kekhawatiran baru akan stabilitas kawasan, di tengah klaim pelanggaran gencatan senjata yang saling dilontarkan oleh pihak Israel maupun Hizbullah.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Lebanon dan laporan National News Agency (NNA), serangan paling mematikan terjadi di Desa Yanouh. Tiga orang dilaporkan gugur, di mana salah satu korbannya adalah seorang anak berusia tiga tahun.
Militer Israel (IDF) mengonfirmasi serangan tersebut, namun menyatakan bahwa target utamanya adalah seorang komandan artileri Hizbullah. IDF mengeklaim sosok tersebut bertanggung jawab atas berbagai serangan ke wilayah Israel dan sedang berupaya memulihkan kekuatan tempur Hizbullah pasca-perang.
Sementara itu, korban jiwa keempat dilaporkan jatuh di desa perbatasan Aita al-Shaab akibat serangan terpisah yang diluncurkan pada hari yang sama.
Selain serangan udara, pasukan darat Israel melakukan penggerebekan di Desa Habbariyeh. Dalam operasi tersebut, Israel menangkap seorang pejabat dari al-Jamaa al-Islamiya, kelompok Sunni Lebanon yang sempat aktif dalam konflik di Gaza.
Pihak militer Israel melabeli tokoh tersebut sebagai “teroris senior” dan mengonfirmasi bahwa yang bersangkutan telah dibawa ke Israel untuk menjalani proses interogasi intensif.
Adapun Israel mengeklaim telah melakukan mitigasi risiko sipil dengan menggunakan amunisi presisi.
Sementara Hizbullah mengutuk keras insiden ini sebagai “eskalasi berbahaya” yang menandai babak baru agresi Israel. Hizbullah menegaskan pihaknya tetap patuh pada komitmen gencatan senjata di wilayah selatan.
Eskalasi ini menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan damai di perbatasan Lebanon-Israel. Meskipun kedua belah pihak secara resmi terikat dalam gencatan senjata, aktivitas intelijen dan serangan presisi tetap dilakukan Israel guna memangkas kemampuan militer kelompok-kelompok bersenjata di Lebanon sebelum mereka sempat berkonsolidasi penuh.





