Solusiindonesia.com — Situasi keamanan global yang kian memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya melibatkan konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, memicu respons serius dari organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi menginstruksikan seluruh warga Nahdliyin untuk menggalakkan kembali pembacaan Qunut Nazilah di setiap shalat fardhu.
Instruksi ini tertuang dalam surat resmi nomor 51/PB.01/A.II.08.47/99/03/2026 tertanggal 1 Maret 2026. Langkah spiritual ini diambil sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan dan permohonan perlindungan kepada Allah SWT di tengah kabar duka wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta meningkatnya serangan militer di kawasan tersebut.
Panduan Pelaksanaan Qunut Nazilah
Dalam surat yang ditandatangani oleh jajaran syuriyah dan tanfidziyah PBNU, termasuk Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf, terdapat beberapa poin teknis pelaksanaan agar sesuai dengan tuntunan:
- Waktu Pembacaan: Dibaca pada rakaat terakhir setiap shalat fardhu (lima waktu), termasuk saat Shalat Jumat.
- Posisi: Dilakukan setelah bangkit dari rukuk (i’tidal).
- Ketentuan Shalat Subuh: Khusus untuk shalat Subuh, doa Qunut Nazilah dibaca setelah doa qunut Subuh yang rutin dilakukan.
- Sasaran Instruksi: Ditujukan kepada seluruh pengurus wilayah, cabang, pesantren (RMI NU), hingga takmir masjid dan mushalla di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Teks Arab dan Terjemahan Qunut Nazilah
PBNU merilis redaksi doa spesifik yang diharapkan dapat menyatukan batin umat dalam memohon kedamaian dan keadilan. Berikut adalah bacaannya:
اللّهُمَّ الْعَنِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ. اللّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَيْهِمْ ، وَاجْعَلْ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ. اللّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمَاتِهِمْ. اَللَّهُمَّ شَيِّتْ شَمْلَهُمْ، اللَّهُمَّ مَزِّقْ جَمْعَهُمْ اللَّهُمَّ زَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Artinya:
“Ya Allah, laknatilah orang-orang kafir yang menghalangi dari jalan-Mu, yang mendustakan rasul-rasul-Mu, dan yang memerangi para wali-Mu. Ya Allah, perkeraslah hukuman-Mu atas mereka, dan timpakanlah kepada mereka siksa dan azab-Mu. Ya Allah, pecah-belah persatuan mereka. Ya Allah, cerai-beraikanlah kebersamaan mereka. Ya Allah, hancurkanlah perkumpulan mereka. Ya Allah, goyahkanlah kaki-kaki mereka (jadikan mereka tidak teguh), dan turunkanlah kepada mereka siksa-Mu yang tidak Engkau tolak dari kaum yang berdosa. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada junjungan kami Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya, dan semoga keselamatan tercurah kepada mereka.”
Meneladani Sejarah: Mengapa Qunut Nazilah Dibaca?
Secara historis, Qunut Nazilah bukanlah amalan baru. Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa ini saat umat Islam berada dalam kondisi terjepit atau tertimpa musibah besar (nazilah).
Salah satu peristiwa paling memilukan yang menjadi latar belakang amalan ini adalah Tragedi Bir Ma’una. Kala itu, 70 sahabat Nabi yang merupakan penghafal Al-Qur’an (Jama’ah Qurra’) dikhianati dan dibantai oleh kabilah dari Nejed. Kesedihan mendalam yang dirasakan Rasulullah SAW atas hilangnya para penjaga wahyu tersebut membuat beliau mengamalkan doa qunut ini selama sebulan penuh untuk memohon perlindungan bagi umat Islam.
Saat ini, ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah laporan rudal balistik menghantam beberapa titik strategis. Pemerintah Indonesia sendiri terus memantau kondisi WNI di sana dan menghimbau semua pihak untuk menahan diri demi menghindari perang terbuka yang lebih luas.







