Solusiindonesia.com — Tahun 2025 akan dikenang dalam buku sejarah bukan karena stabilitasnya, melainkan karena gemuruh langkah kaki di aspal jalanan. Dari gang-gang sempit di Jakarta hingga alun-alun besar di Meksiko dan Serbia, sebuah pesan tunggal menggema kuat: Status quo tidak lagi bisa diterima.
Fenomena “Global Protest Tracker” mencatat lebih dari 70 negara dilanda unjuk rasa besar-besaran sepanjang tahun ini. Menariknya, di barisan paling depan, kita melihat wajah-wajah segar: Generasi Z.
Di bawah kibaran bendera hitam One Piece—simbol perlawanan fiksi yang menjadi nyata—anak-anak muda ini bukan sekadar sedang “marah”, mereka sedang melakukan dekonstruksi terhadap sistem pemerintahan yang lapuk oleh korupsi dan militerisme.
Kekuatan Pemuda: Motor Perubahan Sistemik
Dulu, anak muda sering dicap apolitis, lebih sibuk dengan layar ponsel daripada nasib bangsa. Namun, tahun 2025 membuktikan sebaliknya.
Di Nepal, konsistensi Gen-Z berhasil meruntuhkan kursi perdana menteri. Di Mongolia, kemarahan mereka menggulingkan rezim yang dianggap korup. Bahkan di Indonesia, tragedi yang menimpa Affan Kurniawan menjadi sumbu ledak yang memaksa lahirnya komite reformasi kepolisian.
Mengapa mereka begitu kuat? Jawabannya ada pada literasi digital dan hilangnya rasa takut. Mereka tidak lagi bergantung pada narasi tunggal pemerintah.
Dengan media sosial, mereka mem-benchmark kualitas hidup mereka dengan standar global. Ketika mereka melihat ketimpangan, nepotisme, dan represi militeristik, mereka bergerak dengan taktik yang cair, organik, dan tanpa satu pemimpin tunggal yang mudah dibungkam.
Belajar dari Sejarah: Bukan Sekadar “Buih di Lautan”
Sejarah dunia selalu memiliki titik balik yang digerakkan oleh pemuda. Kita ingat Revolusi Beludru 1989 di Cekoslowakia, di mana mahasiswa menjadi mesin utama penggulingan rezim komunis. Kita ingat Arab Spring yang dipicu oleh keresahan pemuda atas kesulitan ekonomi dan otoritarianisme.
Namun, sejarah juga memberi peringatan: Gerakan tanpa konsolidasi organisasi yang kuat berisiko menguap begitu saja.
CEO Alvara, Hasanuddin Ali, mengingatkan bahwa aktivisme anak muda jangan sampai menjadi “buih di lautan”—indah saat pecah, namun hilang tanpa bekas. Kekuatan untuk merobohkan sistem harus dibarengi dengan kemampuan untuk membangun sistem yang baru melalui jalur-jalur formal dan politik praktis.
Refleksi Akhir Tahun: Pesan untuk Penguasa
Gerakan anak muda ini ingin menegaskan satu hal kepada para penguasa di seluruh dunia: Berhentilah menggunakan tangan besi. Pola komunikasi top-down sudah usang. Menghadapi Gen-Z dengan kekerasan atau kendaraan taktis hanya akan menyulap api kecil menjadi kebakaran nasional.
Pemerintah harus berhenti memandang pemuda sebagai “objek” yang bisa didikte, dan mulai menjadikan mereka “subjek” dalam pengambilan kebijakan.
Tahun 2025 telah menunjukkan bahwa ketika masa depan anak muda terancam—baik oleh biaya hidup yang mencekik, korupsi yang menggila, maupun militerisasi jabatan sipil—mereka tidak akan tinggal diam di kamar. Mereka akan turun ke jalan, membajak narasi, dan mengambil alih kemudi sejarah.
Gerakan demokrasi tahun ini adalah pengingat bahwa kekuasaan sejatinya ada di tangan rakyat, dan pemuda adalah penjaga kompasnya. Di tahun depan, tantangannya bukan lagi soal seberapa besar massa yang bisa dikumpulkan, melainkan seberapa mampu energi ini diubah menjadi kebijakan yang nyata.
Selamat tinggal 2025, tahun di mana anak muda membuktikan bahwa mereka bukan sekadar penonton sejarah, melainkan nakhoda yang siap mengarahkan kapal bangsa menuju perairan yang lebih bersih dan adil.








