Solusiindonesia.com — Gray Divorce: Angka perceraian di atas 50 tahun terus meningkat. Kasus gugatan cerai oleh Atalia Praratya terhadap Ridwan Kamil menjadi sorotan, namun pakar menyebut perpisahan di usia senja bukanlah keputusan mendadak atau sekadar krisis paruh baya.
Apa faktor pendorong sesungguhnya?
Gelombang perceraian di usia senja, atau yang populer disebut gray divorce, kembali menjadi perhatian publik menyusul kabar gugatan cerai yang dilayangkan Atalia Praratya terhadap suaminya, Ridwan Kamil.
Informasi mengejutkan ini telah dikonfirmasi dan teregistrasi di Pengadilan Agama (PA) Bandung, didaftarkan melalui kuasa hukum wanita yang akrab disapa ‘Bu Cinta’ tersebut.
“Betul, informasinya memang demikian,” ujar Panitera PA Bandung, Dede Supriadi, Senin (15/12/2025).
Kasus tokoh publik ini tak lepas dari stigma yang sering menyertai gray divorce: krisis paruh baya, perselingkuhan, atau keputusan impulsif. Namun, kenyataan di balik perpisahan setelah puluhan tahun berumah tangga jauh lebih kompleks, didorong oleh akumulasi masalah bertahun-tahun.
Bukan Keputusan Mendadak, Melainkan Tekanan Emosional Jangka Panjang
Perceraian di usia tua, menurut laporan Psychology Today, jarang merupakan respons mendadak. Sering kali, perpisahan ini adalah puncak dari penumpukan tekanan emosional yang telah menggerogoti kesehatan mental dan fisik pasangan selama bertahun-tahun.
Seorang pria yang bercerai setelah 40 tahun menikah bahkan menegaskan bahwa keputusannya berpisah bukan karena hadirnya orang ketiga, melainkan karena kelelahan emosional yang sudah lama dirasakan.
Fakta-Fakta Penting di Balik Tren “Gray Divorce”
Berbagai studi menyoroti fakta-fakta kunci yang mendorong fenomena gray divorce, terutama pada kelompok usia 50 tahun ke atas:
- Peningkatan Tren Generasi Boomer: Meskipun angka perceraian di atas 50 tahun masih lebih rendah dibandingkan kelompok usia muda, tren peningkatannya signifikan sejak tahun 1990-an. Hal ini sebagian besar didorong oleh Generasi Boomer yang secara sosial lebih terbuka dan menerima perceraian dibandingkan generasi sebelumnya.
- Faktor Risiko Utama Adalah Riwayat Pernikahan: Fakta mengejutkan, bukan faktor eksternal seperti anak sudah dewasa, melainkan riwayat pernikahan itu sendiri yang menjadi faktor risiko terbesar.
Pasangan yang pernah bercerai dan menikah kembali, terutama setelah pernikahan pertama yang singkat, memiliki kecenderungan jauh lebih tinggi untuk mengakhiri pernikahan yang kedua atau berikutnya.
- Kondisi Ekonomi Menjadi Pelindung: Kondisi finansial yang relatif stabil justru menjadi “pelindung” pernikahan usia lanjut. Perceraian lebih sering teramati pada pasangan dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah atau yang mengalami pengangguran, bukan pasangan yang memasuki masa pensiun. Tekanan ekonomi terbukti menjadi katalis yang mempercepat keretakan dalam hubungan.
- Konflik dan Perselingkuhan Hanya Gejala: Para pakar menemukan bahwa akar dari kegagalan pernikahan yang berlangsung lama sudah tertanam jauh di masa lalu.
Isu-isu seperti perselingkuhan atau konflik hebat yang terjadi di akhir pernikahan sering kali hanyalah gejala dari masalah struktural hubungan yang sudah rusak, bukan penyebab utama perpisahan.
Dengan demikian, perceraian pasangan senior seperti Atalia Praratya dan Ridwan Kamil, serta banyak pasangan lain, seringkali merupakan hasil dari proses panjang penarikan diri dan kelelahan emosional, menepis spekulasi umum yang hanya berfokus pada peristiwa tunggal.








