Solusiindonesia.com — Seorang perempuan Palestina meninggal dunia di Jalur Gaza saat badai musim dingin menerjang wilayah pesisir tersebut, mengancam keselamatan hampir 900.000 warga Palestina yang kini terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat, pada Minggu (28/12/2025)
Mengutip laporan Al Jazeera, korban bernama Alaa Marwan Juha (30) tewas setelah sebuah tembok runtuh dan menimpa tendanya di kawasan Remal, sebelah barat Kota Gaza. Insiden itu terjadi ketika hujan deras disertai angin kencang melanda Gaza sejak Sabtu(27/12)malam.
Al Jazeera Arabic melaporkan, berdasarkan keterangan saksi mata, tembok yang telah rusak sebagian itu roboh akibat terpaan angin kuat dan menghantam tenda keluarga Juha. Beberapa anggota keluarganya juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat kejadian tersebut.
Cuaca ekstrem tersebut memicu banjir dan menerbangkan ribuan tenda yang selama ini menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi warga Palestina yang mengungsi sejak akhir 2023, setelah Israel melancarkan perang di Gaza. Wilayah itu kini menghadapi ancaman suhu beku, hujan deras, dan badai besar, sebagaimana diperingatkan oleh otoritas setempat.
Direktur Palestinian Non-Governmental Organizations Network (PNGO), Amjad Shawa, mengatakan kepada Al Jazeera Arabic bahwa cuaca buruk semakin memperparah krisis kemanusiaan yang sudah berada pada titik kritis.
“Sistem tekanan rendah ini akan semakin memperumit keadaan dan membahayakan nyawa warga,” ujarnya.
Shawa menegaskan bahwa tenda tidak mampu memberikan perlindungan layak dari banjir dan cuaca ekstrem. Ia mendesak agar rumah mobil atau karavan segera diizinkan masuk, serta peralatan untuk memperbaiki sistem pembuangan limbah yang rusak.
“Tenda bukanlah pilihan maupun solusi,” kata Shawa, seraya mengingatkan bahwa protokol kemanusiaan mewajibkan penyediaan tempat tinggal yang memadai. Ia juga menyerukan tekanan internasional terhadap Israel agar mencabut pembatasan bantuan, serta menyebut seluruh Jalur Gaza sebagai “wilayah bencana.”
Menurut otoritas kesehatan Gaza, setidaknya 15 orang, termasuk tiga bayi, meninggal dunia bulan ini akibat hipotermia setelah hujan deras dan penurunan suhu yang tajam. Petugas penyelamat telah memperingatkan warga agar tidak berlindung di bangunan rusak yang berisiko runtuh, namun kehancuran luas membuat pilihan tempat aman nyaris tidak ada.
Di saat yang sama, sistem layanan kesehatan Gaza berada di ambang kolaps total. Kekurangan obat-obatan, peralatan medis, dan bantuan darurat semakin memperburuk kondisi warga yang terdampak.
Sementara itu, pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertolak ke Amerika Serikat ketika pembahasan tahap kedua gencatan senjata berlangsung. Tahap pertama gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, namun Israel dituduh terus melanggar kesepakatan dan menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan, meskipun hal itu tercantum dalam fase awal perjanjian.
Rencana 20 poin yang diajukan Presiden AS Donald Trump pada September menyerukan gencatan senjata awal yang diikuti langkah-langkah menuju perdamaian lebih luas. Hingga kini, fase pertama mencakup pertukaran tawanan dan penarikan sebagian pasukan Israel dari Gaza.
Meski demikian, serangan Israel masih berlanjut. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sejak gencatan senjata diberlakukan, lebih dari 414 warga Palestina tewas dan 1.142 lainnya terluka akibat pelanggaran perjanjian.
Secara keseluruhan, perang Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 71.266 warga Palestina dan melukai 171.219 orang sejak Oktober 2023.








