Solusiindonesia.com — Situasi keamanan di Teheran utara mencekam setelah sekelompok massa menyerbu kediaman Duta Besar Palestina untuk Iran, Salam Al-Zawawi. Insiden yang terjadi di tengah gelombang unjuk rasa ekonomi ini memaksa sang diplomat dilarikan ke rumah sakit akibat gangguan pernapasan serius.
Kronologi Penyerbuan di Teheran Utara
Berdasarkan laporan Quds News Network (QNN), aksi anarkis bermula ketika sekitar 200 demonstran mengepung kediaman diplomatik tersebut. Massa dilaporkan merusak fasilitas rumah, menghancurkan jendela, hingga melontarkan penghinaan verbal kepada pihak kedutaan.
Ketegangan meningkat saat demonstran membakar pembatas plastik di depan gerbang masuk. Hal ini menyebabkan kepulan asap hitam pekat menyelimuti bangunan, yang menjadi penyebab utama tumbangnya kondisi kesehatan Dubes Zawawi.
Berlindung di Ruang Bawah Tanah
Selama kerusuhan berlangsung, Salam Al-Zawawi beserta keluarga dan staf kedutaan dilaporkan sempat terjebak di dalam bangunan. Mengutip Press TV, mereka terpaksa berlindung di ruang bawah tanah (basement) untuk menghindari amukan massa sebelum pasukan keamanan Iran tiba di lokasi untuk membubarkan kerumunan.
“Dubes mengalami gangguan pernapasan akut akibat menghirup asap pembakaran dan segera dievakuasi ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis,” tulis pernyataan resmi Kedutaan Palestina di Teheran.
Pemicu Kerusuhan: Krisis Ekonomi dan Mata Uang
Serangan terhadap kediaman diplomat ini bukanlah insiden tunggal, melainkan bagian dari gelombang protes nasional yang melanda Iran sejak Desember lalu. Masyarakat turun ke jalan sebagai bentuk protes atas:
- Depresiasi Mata Uang: Nilai tukar mata uang lokal yang merosot tajam.
- Inflasi Tinggi: Memburuknya kondisi ekonomi yang mencekik warga.
- Ketidakstabilan Pasar: Protes awalnya pecah di Pasar Besar Teheran sebelum merambat ke wilayah pemukiman elit dan kota-kota lain.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas keamanan Iran masih berjaga di sekitar kawasan diplomatik guna mencegah aksi susulan di tengah sentimen publik yang masih memanas.







