Solusiindonesia.com — Presiden Israel Isaac Herzog bersama sejumlah pejabat militer tingkat tinggi pada Rabu (12/11/2025) mengecam keras aksi kekerasan yang dilakukan pemukim Yahudi terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
Mereka menyerukan agar gelombang serangan yang kian meningkat di wilayah pendudukan itu segera dihentikan.
Dikutip dari Al Jazeera, Herzog menyebut aksi para pemukim sebagai tindakan yang “mengejutkan dan serius”. Pernyataan tersebut menjadi suara tegas dan langka dari pejabat tinggi Israel terhadap kekerasan yang dilakukan oleh kelompok pemukim.
Meski perannya bersifat seremonial, posisi Herzog sering dianggap sebagai kompas moral serta simbol persatuan nasional.
Dalam unggahan di media sosial, Herzog menegaskan bahwa kekerasan oleh “segelintir” pelaku telah “melewati batas merah,” dan menuntut seluruh otoritas negara untuk “bertindak tegas memberantas fenomena ini.”
Kecaman Herzog dan dua perwira tinggi militer itu muncul setelah insiden pada Selasa (11/11), ketika puluhan pemukim bertopeng menyerang dua desa Palestina Beit Lid dan Deir Sharaf di Tepi Barat.
Mereka dilaporkan membakar kendaraan, merusak properti, dan bentrok dengan pasukan Israel yang mencoba mengendalikan situasi.
Sementara itu, perkembangan lain di hari yang sama menunjukkan Israel mulai membuka kembali penyeberangan ke Jalur Gaza utara yang sebelumnya ditutup selama dua bulan.
Langkah ini disambut positif oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menilai Israel terlalu lambat dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan sejak gencatan senjata bulan lalu. Saat ini, bantuan telah kembali mengalir melalui dua titik di Gaza selatan dan tengah sejak 10 Oktober.
Militer Israel juga melaporkan telah menewaskan empat militan bersenjata yang disebut sebagai
“ancaman langsung” di wilayah Gaza selatan. Di Khan Younis, satu orang dilaporkan tewas setelah mendekati pasukan Israel di dekat garis kuning, sementara di Rafah tiga orang lainnya tewas saat tentara menghancurkan terowongan bawah tanah.
Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, turut menggemakan pernyataan Herzog dengan menegaskan bahwa militer “tidak akan menoleransi tindakan sekelompok kecil penjahat yang menodai masyarakat yang taat hukum.”
Ia menambahkan bahwa kekerasan para pemukim telah mengalihkan fokus pasukan dari misi utama menjaga keamanan nasional.
Senada, Kepala Komando Pusat Militer Mayor Jenderal Avi Bluth mengatakan menghadapi “kelompok anarkis” tersebut memaksa militer menggunakan sumber daya besar yang seharusnya difokuskan pada operasi antiterorisme dan peningkatan keamanan.
Menurut militer Israel, para pelaku penyerangan melarikan diri ke kawasan industri terdekat dan sempat menyerang tentara yang datang ke lokasi, hingga menyebabkan kerusakan pada kendaraan militer. Polisi setempat menyatakan telah menahan empat warga Israel, sementara empat warga Palestina dilaporkan terluka.
Pada Rabu, kepolisian mengonfirmasi tiga tersangka telah dibebaskan, sedangkan satu tersangka lain seorang anak di bawah umur masih ditahan selama enam hari atas dugaan pembakaran dan penyerangan. Polisi menegaskan penyelidikan tetap berlanjut “dengan tujuan membawa pelaku ke pengadilan, tanpa memandang latar belakang mereka.”
Kantor Kemanusiaan PBB (OCHA) sebelumnya melaporkan bahwa bulan Oktober mencatat jumlah serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2006, dengan lebih dari 260 insiden kekerasan di seluruh Tepi Barat.








