Solusilndonesia.com — Serangan di Gaza kembali memakan korban jiwa meskipun gencatan senjata enam minggu masih berlaku.
Pasukan Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya empat warga Palestina dan melukai beberapa lainnya dalam sejumlah insiden terpisah pada Senin (24/11/2025)
Dikutip dari Al Jazeera, seorang pria Palestina tewas akibat serangan pesawat tak berawak di Bani Suheila, wilayah selatan Gaza yang berada di luar zona yang dikenal sebagai “garis kuning”.
Di sisi lain, seorang anak meninggal di Kota Gaza utara setelah persenjataan yang ditinggalkan pasukan Israel meledak, menurut keterangan pertahanan sipil setempat. Beberapa anak lainnya juga dilaporkan mengalami luka serius.
Laporan lapangan menyebutkan serangan artileri, serangan udara, serta tembakan helikopter terus terjadi di sejumlah titik, baik di utara maupun selatan. Di Beit Lahiya, tembakan Israel kembali menghantam area di luar garis kuning, sementara di Rafah dan Khan Younis, tank dan helikopter menyerang kawasan timur laut wilayah tersebut.
Para saksi menggambarkan adanya pola penghancuran sistematis di wilayah timur Gaza yang dikhawatirkan dapat menciptakan zona penyangga permanen dan menyulitkan warga untuk kembali ke permukiman mereka.
Di Gaza tengah, tim pertahanan sipil dengan dukungan polisi dan Palang Merah menemukan delapan jasad anggota satu keluarga dari reruntuhan rumah mereka di kamp Maghazi.
Pemerintah Gaza mengungkapkan bahwa sejak gencatan senjata dimulai, total jenazah yang ditemukan telah mencapai 582 orang, sementara lebih dari 9.500 warga masih hilang di bawah reruntuhan.
Sementara itu, kelompok Jihad Islam Palestina mengumumkan telah menemukan jenazah seorang tawanan Israel di kamp Nuseirat. Jika identitasnya terkonfirmasi, masih terdapat dua jenazah tawanan yang harus dievakuasi sesuai kesepakatan fase pertama gencatan senjata.
Israel sebelumnya setuju mengembalikan jenazah 15 warga Palestina sebagai imbalan atas setiap jenazah tawanan.
Di sisi lain, GHF entitas bantuan yang didukung Amerika Serikat menyatakan penghentian operasinya di Gaza dengan alasan ketentuan yang diatur dalam perjanjian gencatan senjata Oktober.
Para ahli PBB mencatat sedikitnya 859 warga Palestina tewas di sekitar titik distribusi bantuan GHF sejak Mei 2025 akibat tembakan pasukan Israel dan kontraktor asing, yang memicu kecaman internasional karena dianggap mengabaikan mekanisme kemanusiaan resmi.
Ketegangan juga meningkat di Tepi Barat. Pasukan Israel melakukan penangkapan sedikitnya 16 warga Palestina dalam serangkaian serangan semalam di berbagai daerah, termasuk Iktaba, Tuqu, Kobar, dan Silat al-Harithiya.
Sementara itu, bentrokan meletus di Deir Jarir setelah pemukim Israel menyerang rumah-rumah warga, yang berujung pada tewasnya seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, Baraa Khairi Ali Maali.
Di Lebanon, Hizbullah menggelar pemakaman komandan seniornya, Haytham Ali Tabatabai, yang tewas dalam serangan Israel pada Minggu(23/11). Rekaman dari pinggiran Beirut Selatan menunjukkan peti jenazah yang diselimuti warna kuning dan hijau khas Hizbullah diiringi para pelayat.
Wakil Presiden Dewan Politik Hizbullah, Mahmoud Qmati, menyebut serangan yang menargetkan Tabatabai sebagai “pelanggaran gencatan senjata”, menuding Israel meningkatkan ketegangan dengan dukungan Amerika Serikat.
Menurut analis keamanan Ali Rizk, Hizbullah kini berhitung dengan cermat mengenai respons selanjutnya dan kecil kemungkinan mengambil langkah yang dapat menjadi alasan bagi Israel untuk melancarkan perang besar-besaran terhadap Lebanon, yang dinilai dapat berakibat jauh lebih merusak daripada bentrokan yang terjadi saat ini.








