Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Khazanah

Di Bawah Langit Kepuh Kota Malang: Simfoni Doa dan Refleksi Ketuhanan Majlis At-Toyyibah Menyambut 2026

×

Di Bawah Langit Kepuh Kota Malang: Simfoni Doa dan Refleksi Ketuhanan Majlis At-Toyyibah Menyambut 2026

Sebarkan artikel ini
Penampilan Ki Ageng Senggolo Group pada Dialogistik Ketuhanan dan Refleksi Akhir Tahun Majlis At-Toyyibah. Foto: Istimewa

Solusiindonesia.com — Ketika hiruk-pikuk kembang api mulai memekakkan telinga di penjuru kota, sebuah sudut di halaman Majlis At-Toyyibah Kepuh Kota Malang justru menawarkan keheningan yang megah. Pada Rabu malam (31/12/2025), ratusan jiwa bersimpuh dalam tajuk “Dialogistik Ketuhanan dan Refleksi Malam Pergantian Tahun,” mengubah gegap gempita dunia menjadi untaian zikir yang menyentuh langit.

Awal yang Syahdu: Dari Rotib hingga Makan Malam Persaudaraan
Malam dibuka dengan getaran spiritual pembacaan Rotibul Haddad dan Shalawat Burdah. Suara jemaah yang menyatu menciptakan atmosfer magis, seolah membersihkan debu-debu hati yang menumpuk sepanjang tahun 2025.

Usai bersitirahat sejenak untuk menikmati santap malam bersama—sebuah simbol keberkahan dan ukhuwah—acara inti dimulai dengan kumandang lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semangat nasionalisme dan spiritualitas berpadu, menjadi pengantar bagi diskusi mendalam tentang eksistensi Tuhan dan perjalanan diri.

Potret para pemateri dalam Dialogistik Ketuhanan dan Refleksi Akhir Tahun Majlis At-Toyyibah

Harmoni Nada dan Ilmu
Grup Ki Ageng Senggolo di bawah asuhan Ustaz Majid sukses “menggeprak” panggung dengan tembang-tembang shalawat yang bertenaga namun tetap sakral. Di sela-sela nada yang mengalun, ilmu pun mengalir.

  • KH Ali Mas’ud mengupas tuntas Fikih secara klasikal, memberikan fondasi hukum yang kokoh bagi jemaah.
  • Ustaz Aziz Damanhuri, S.HI., M.HI. membawa perspektif Fikih kontemporer, menjawab tantangan zaman yang kian dinamis.
  • Ustaz Bambang Hariadi, S.S. menyentuh sisi batin melalui kajian Tasawuf, mengajak jemaah menyelami samudera makrifat.

Pesan Bermakna dari Gus Arif
Khadimul Majlis, Ustaz Arif Setiawan—atau yang akrab disapa Gus Arif—menyampaikan bahwa acara ini adalah oase di tengah gempita perayaan tahun baru yang identik dengan pesta pora.

“Kami ingin memfasilitasi jemaah agar waktu pergantian tahun ini lebih bermakna. Bukan sekadar kembang api, tapi belajar fikih dan refleksi perjalanan hidup untuk menyongsong 2026,” tutur Gus Arif dengan wajah penuh syukur.

Meski dipersiapkan secara mendadak atau “spontan”, antusiasme jemaah yang membeludak membuat Gus Arif terharu. Gus Arif menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan syiar ini sebagai investasi akhirat.

Puncak Refleksi: Menangis di Ambang Tahun
Tepat pukul 23.15 WIB, suasana berubah menjadi sangat emosional. Ustaz Ach Zaini Khusyairi, SM. CH. memandu sesi refleksi akhir tahun. Dalam narasi yang mendawai, beliau mengajak jemaah mentadabburi setiap helai napas dan nikmat Allah yang sering terlupakan.

Raut wajah haru dan tetesan air mata tampak di wajah para jemaah. Munajat yang dipanjatkan bukan sekadar kata-kata, melainkan sebuah janji untuk membangun optimisme baru di tahun 2026. Malam itu, Majlis At-Toyyibah tidak hanya merayakan pergantian kalender, tapi merayakan kembalinya jiwa kepada Sang Pencipta.

Acara dipungkasi dengan syair-syair rohani Islami yang dilantunkan kembali oleh Ustaz Majid dan Ki Ageng Senggolo. Saat jarum jam menunjuk angka dua belas, bukan ledakan petasan yang mereka bawa pulang, melainkan ketenangan hati dan semangat baru untuk menjadi pribadi yang lebih bertaqwa. (*)

Image Slide 1