Solusiindonesia.com — Mengawali hari bukan sekadar soal menyeduh kopi atau mengecek ponsel. Dalam pandangan Islam, atmosfer pagi hari memiliki urgensi spiritual yang besar. Imam Nawawi dalam kitab monumental Al-Adzkar menekankan bahwa zikir setelah Subuh adalah amalan utama yang mampu membentuk pola pikir dan perilaku seorang Muslim sepanjang hari.
Salah satu doa yang konsisten dipanjatkan oleh Rasulullah SAW setiap pagi—sebagaimana diriwayatkan oleh Ummu Salamah—mengandung tiga pilar utama kehidupan yang sukses di dunia dan akhirat.
Berdasarkan HR Ibnu Majah, berikut adalah doa yang dipanjatkan Nabi Muhammad SAW:
اللَّهمَّ إنِّي أسأَلُكَ عِلمًا نافعًا، ورِزْقًا طيِّبًا، وعمَلًا مُتقَبَّلًا
“Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqobbalan.”
Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada Engkau ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima
Doa ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah strategi hidup yang mencakup aspek intelektual, ekonomi, dan spiritual.
1. Ilmu yang Bermanfaat (Ilman Nafi’an)
Ilmu bukan tentang seberapa banyak teori yang dihafal, melainkan seberapa besar dampaknya bagi kemanusiaan. Ilmu yang bermanfaat adalah pengetahuan yang membuahkan karakter baik dan menjadi solusi bagi masalah di tengah masyarakat.
Dalam konteks modern, ini adalah pengingat agar kita tidak menyalahgunakan keahlian untuk merusak atau menyengsarakan orang lain.
2. Rezeki yang Halal dan Baik (Rizqan Thayyi-ban)
Setiap orang keluar rumah di pagi hari dengan tujuan menjemput rezeki. Namun, Rasulullah mengajarkan standar yang tinggi: rezeki tersebut harus thayyib (baik). Artinya, didapatkan tanpa menipu, korupsi, atau merugikan hak orang lain. Dan digunakan untuk hal-hal yang membawa kebaikan bagi keluarga dan lingkungan.
3. Amal yang Diterima (Amalan Mutaqobbalan)
Kesibukan tanpa nilai di sisi Tuhan adalah kerugian. Agar sebuah pekerjaan bernilai ibadah dan diterima (maqbul), para ulama menetapkan dua syarat utama:
- Ash-Shawab (Kebenaran): Dilakukan sesuai dengan aturan dan etika yang berlaku.
- Al-Ikhlash (Ketulusan): Diniatkan murni karena Allah, bukan sekadar mencari validasi manusia atau popularitas.
Membaca doa ini setelah Subuh membantu kita memasang “navigasi” mental. Kita diingatkan untuk terus belajar (ilmu), bekerja dengan integritas (rezeki), dan menjaga kualitas niat (amal). Dengan konsistensi, rutinitas pagi ini tidak hanya mendatangkan ketenangan batin, tetapi juga keberkahan yang nyata dalam aktivitas harian.
Semoga hari-hari kita selalu dinaungi oleh pancaran ilmu, keberlimpahan rezeki yang halal, serta diterimanya setiap tetes keringat sebagai amal saleh.








