Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Nasional

Dari Lapangan Banteng ke Kebon Sirih: Strategi Thomas Djiwandono Menuju Kursi Deputi Gubernur BI

×

Dari Lapangan Banteng ke Kebon Sirih: Strategi Thomas Djiwandono Menuju Kursi Deputi Gubernur BI

Sebarkan artikel ini
Thomas Djiwandono terpilih sebagai Deputi Gubernur BI. Foto: Instagram

Solusiindonesia.com — Estafet kepemimpinan di otoritas moneter Indonesia memasuki babak baru. Thomas Djiwandono, yang akrab disapa Tommy, baru saja mengantongi restu dari Komisi XI DPR RI untuk menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Langkah ini menandai transisi signifikan bagi sang Wakil Menteri Keuangan yang kini bersiap menanggalkan atribut fiskalnya demi menjaga stabilitas rupiah.

Penetapan Tommy dilakukan melalui proses musyawarah mufakat setelah ia menjalani uji kelayakan (fit and proper test) yang cukup intensif di Senayan, Senin (26/1/2026). Ia hadir menggantikan Juda Agung yang sebelumnya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan strategis tersebut.

Salah satu sorotan utama dalam persidangan di Komisi XI adalah status politik Tommy. Sebagai keponakan dari Presiden Prabowo Subianto dan tokoh penting di Partai Gerindra, isu independensi Bank Indonesia menjadi perhatian publik.

Menjawab keraguan tersebut, Tommy memberikan penegasan konkret. Ia secara resmi menyatakan telah keluar dari struktur Partai Gerindra dan melampirkan bukti tertulis bahwa dirinya bukan lagi pengurus partai politik. Langkah ini diambil untuk menjaga marwah Bank Indonesia sebagai lembaga independen yang bebas dari intervensi politik.

“Keputusan ini akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR RI untuk disahkan secara resmi esok hari,” ujar Ketua Komisi XI DPR, Misbakhun.

Dalam paparannya, Tommy membawa visi besar bertajuk “Indonesia Maju 2045”. Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa berjalan sendirian; harus ada sinkronisasi total antara kebijakan moneter dan fiskal.

Ada empat elemen kunci yang menurutnya harus bergerak selaras yaitu Sektor Fiskal dimana pengelolaan anggaran yang disiplin. Sektor Moneter yang menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Sektor Keuangan dengan memperkuat intermediasi perbankan. Dan iklim investasi yang menciptakan kepastian hukum bagi investor.

“Jika mesin-mesin ini bergerak bersama, kita akan melihat pertumbuhan yang inklusif. Sektor bernilai tambah dengan multiplier effect tinggi serta sektor padat karya akan tumbuh selaras,” ungkap Tommy dengan optimis.

Bagi Tommy, tiket menuju status negara maju bersandar pada tiga pilar utama yang saling mengunci yaitu Pertumbuhan Ekonomi, Pemerataan Pembangunan, dan Stabilitas Nasional

Transisi Thomas Djiwandono ke Bank Indonesia diharapkan mampu memperkuat koordinasi antara Kementerian Keuangan dan BI (KSSK), mengingat pengalamannya yang mendalam di sisi kebijakan fiskal selama ini.

Solusiindonesia.com — Estafet kepemimpinan di otoritas moneter Indonesia memasuki babak baru. Thomas Djiwandono, yang akrab disapa Tommy, baru saja mengantongi restu dari Komisi XI DPR RI untuk menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Langkah ini menandai transisi signifikan bagi sang Wakil Menteri Keuangan yang kini bersiap menanggalkan atribut fiskalnya demi menjaga stabilitas rupiah.

Penetapan Tommy dilakukan melalui proses musyawarah mufakat setelah ia menjalani uji kelayakan (fit and proper test) yang cukup intensif di Senayan, Senin (26/1/2026). Ia hadir menggantikan Juda Agung yang sebelumnya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan strategis tersebut.

Salah satu sorotan utama dalam persidangan di Komisi XI adalah status politik Tommy. Sebagai keponakan dari Presiden Prabowo Subianto dan tokoh penting di Partai Gerindra, isu independensi Bank Indonesia menjadi perhatian publik.

Menjawab keraguan tersebut, Tommy memberikan penegasan konkret. Ia secara resmi menyatakan telah keluar dari struktur Partai Gerindra dan melampirkan bukti tertulis bahwa dirinya bukan lagi pengurus partai politik. Langkah ini diambil untuk menjaga marwah Bank Indonesia sebagai lembaga independen yang bebas dari intervensi politik.

“Keputusan ini akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR RI untuk disahkan secara resmi esok hari,” ujar Ketua Komisi XI DPR, Misbakhun.

Dalam paparannya, Tommy membawa visi besar bertajuk “Indonesia Maju 2045”. Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa berjalan sendirian; harus ada sinkronisasi total antara kebijakan moneter dan fiskal.

Ada empat elemen kunci yang menurutnya harus bergerak selaras yaitu Sektor Fiskal dimana pengelolaan anggaran yang disiplin. Sektor Moneter yang menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Sektor Keuangan dengan memperkuat intermediasi perbankan. Dan iklim investasi yang menciptakan kepastian hukum bagi investor.

“Jika mesin-mesin ini bergerak bersama, kita akan melihat pertumbuhan yang inklusif. Sektor bernilai tambah dengan multiplier effect tinggi serta sektor padat karya akan tumbuh selaras,” ungkap Tommy dengan optimis.

Bagi Tommy, tiket menuju status negara maju bersandar pada tiga pilar utama yang saling mengunci yaitu Pertumbuhan Ekonomi, Pemerataan Pembangunan, dan Stabilitas Nasional

Transisi Thomas Djiwandono ke Bank Indonesia diharapkan mampu memperkuat koordinasi antara Kementerian Keuangan dan BI (KSSK), mengingat pengalamannya yang mendalam di sisi kebijakan fiskal selama ini.

Image Slide 1