Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Nasional

Perkuat Ketahanan Energi, Indonesia Siapkan Kerja Sama Strategis senilai US$ 15 Miliar dengan AS

×

Perkuat Ketahanan Energi, Indonesia Siapkan Kerja Sama Strategis senilai US$ 15 Miliar dengan AS

Sebarkan artikel ini
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memberikan keterangannya di Istana Kepresidenan, Jakarta / foto: Presidenri.go.id

Solusiindonesia.com — Pemerintah Indonesia resmi memperkuat sinergi sektor energi dengan Amerika Serikat (AS) menyusul kesepakatan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa langkah ini mencakup investasi besar-besaran, pengalihan sumber impor, hingga pengelolaan mineral kritis.

Targetnya, implementasi teknis dari kesepakatan ini akan rampung dalam masa finalisasi selama 90 hari ke depan.
Diversifikasi Impor Energi: Fokus pada Keseimbangan Dagang
Guna menjaga keseimbangan neraca perdagangan kedua negara, Indonesia berencana mengalokasikan belanja energi sekitar US$ 15 miliar ke pasar Amerika Serikat. Anggaran ini akan digunakan untuk pengadaan:

  • Bahan Bakar Minyak (BBM) jadi.
  • Liquefied Petroleum Gas (LPG).
  • Minyak mentah (crude oil).
    Menteri Bahlil menegaskan bahwa kebijakan ini bukan berarti menambah volume impor nasional secara keseluruhan. “Ini adalah pengalihan pasokan. Kita menggeser sebagian sumber dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika ke AS untuk mendapatkan harga yang lebih kompetitif melalui tender terbuka,” jelasnya.

Investasi Mineral Kritis dan Komitmen Hilirisasi
Selain perdagangan komoditas, pemerintah membuka pintu lebar bagi investor AS untuk masuk ke sektor mineral strategis, seperti nikel, tembaga, emas, dan logam tanah jarang.

Meski demikian, Bahlil menekankan dua poin krusial bagi investor asing:

  • Wajib Hilirisasi: Tidak ada ekspor bahan mentah; investasi harus mencakup pembangunan fasilitas pemurnian (smelter) di dalam negeri.
  • Kemitraan Lokal: Investor didorong bekerja sama dengan BUMN atau perusahaan lokal yang sudah beroperasi.

Update Divestasi Freeport dan Ekspansi ExxonMobil
Dalam laporan resminya, Bahlil juga memaparkan perkembangan dua raksasa energi asal AS di Indonesia:

  • Freeport-McMoRan: Pemerintah menargetkan tambahan saham sebesar 12% tanpa biaya akuisisi. Jika berhasil, kepemilikan Indonesia akan naik menjadi 63% pada tahun 2041, di mana sebagian saham tersebut akan dialokasikan untuk masyarakat daerah penghasil di Papua.
  • ExxonMobil: Sedang dalam tahap komunikasi terkait perpanjangan operasi hingga 2055. Rencana ini membawa potensi investasi tambahan sebesar US$ 10 miliar dengan penyesuaian skema cost recovery yang lebih menguntungkan negara.

Swasembada Bioetanol 2028
Menuju transisi energi hijau, pemerintah mempertegas mandat pencampuran etanol pada bensin (E5-E10) yang ditargetkan berjalan penuh pada tahun 2028. Untuk menutupi celah produksi domestik di masa awal, pemerintah membuka opsi impor etanol sementara agar target ketahanan energi tetap terjaga.

“Langkah ini adalah bagian dari upaya kita membangun kepercayaan global sekaligus memastikan manfaat ekonomi maksimal bagi rakyat Indonesia,” pungkas Bahlil.