Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Nasional

Syuriyah PBNU Klaim Ada Sabotase Sistem dalam Surat Pencopotan Gus Yahya

×

Syuriyah PBNU Klaim Ada Sabotase Sistem dalam Surat Pencopotan Gus Yahya

Sebarkan artikel ini
KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) Ketua Umum PBNU/Instagram

Solusiindonesia.com — Konflik internal di tubuh PBNU kembali memanas setelah muncul dugaan sabotase terhadap sistem administrasi digital organisasi.

Dugaan itu mencuat karena surat resmi Syuriyah PBNU terkait pencopotan Gus Yahya dari kursi Ketua Umum muncul ke publik dalam kondisi draft, tanpa stempel digital, meski substansinya sudah diputuskan secara sah.

Wasekjen PBNU, Wahyu Nur Hidayat Aly atau Gus Wahyu, membeberkan bahwa hambatan teknis terjadi saat tim Syuriyah hendak memasang stempel digital pada surat bernomor 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025.

Hak akses akun yang memiliki otoritas stamping tiba-tiba hilang, padahal status akun tersebut masih tercatat sebagai pemegang kewenangan sah di Peruri.

“Pada pukul 21.54 WIB, kami memastikan ke Peruri bahwa akun yang berwenang masih terdaftar. Artinya, ada pihak yang memblokir dari dalam sistem,” ujar Gus Wahyu dalam konferensi pers, Kamis (27/11/2025).

Ia menilai insiden itu mengarah pada sabotase oleh pihak dalam, tepatnya dari Tim PMO Digdaya PBNU.

Indikasi gangguan tidak berhenti di situ. Ketika tim Syuriyah membuka kembali dokumen pada malam 25 November, tampilan surat berubah menjadi deretan kode tak terbaca.

Baru keesokan hari dokumen kembali normal, tetapi stempel digital hilang dan watermark draft masih menempel. Versi ini kemudian beredar dan segera dibantah kubu Gus Yahya melalui surat nomor 4786.

Meski demikian, Syuriyah menegaskan bahwa keputusan yang termuat dalam surat 4785 tetap sah dan sesuai prosedur.

“Substansi surat tersebut telah diputuskan berdasarkan fakta dan kronologi yang benar,” tegas Gus Wahyu.

Ia juga menyebut bahwa gangguan teknis bukan kejadian tunggal. Sejak Oktober, akses beberapa akun resmi Syuriyah dihapus tanpa pemberitahuan, termasuk akun Rais Aam serta dua staf Syuriyah yang menangani surat keluar.

Penghapusan itu diduga terjadi tak lama setelah Rais Aam menghadiri pertemuan dengan PWNU se-Indonesia di Jakarta.

“Ini menunjukkan adanya pembekuan sepihak terhadap kewenangan Syuriyah melalui manipulasi akses digital oleh oknum di Tanfidziyah,” ujarnya.

Image Slide 1