Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Nasional

Borok di Balik Jubah: Islah Bahrawi Bongkar Skandal Tambang dan “Penumpang Gelap” di PBNU

×

Borok di Balik Jubah: Islah Bahrawi Bongkar Skandal Tambang dan “Penumpang Gelap” di PBNU

Sebarkan artikel ini
Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi saat tampil pada podcast Akbar Faizal Uncensored/tangkapan layar

Solusiindonesia.com — Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi. Dalam sebuah diskusi tajam di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Islah membongkar tabir gelap yang menyelimuti konflik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia menuding adanya praktik “perburuan cuan” oleh oknum bersorban yang memanfaatkan konsesi tambang demi kepentingan politik 2029.

Skema “Sapi Perah” dalam Proposal PT APN
Titik berat investigasi pribadi Islah bermula ketika ia diminta melakukan due diligence atau uji tuntas terhadap proposal bisnis tambang yang diajukan oleh PT Anugerah Perdana Nusantara (PT APN) kepada PBNU. Hasilnya? Islah menemukan draf perjanjian yang dinilai sangat eksploitatif terhadap organisasi Islam terbesar di dunia tersebut.

Berdasarkan analisis Islah, poin-poin dalam proposal tersebut mencerminkan skema bisnis yang timpang:

  • Beban Finansial: Deposit kepada Kementerian ESDM yang seharusnya menjadi tanggung jawab pengelola, justru dibebankan kepada NU.
  • Risiko Operasional: Kerusakan alat berat diklaim sebagai tanggungan organisasi.
  • Pembagian Hasil yang Janggal: Pembagian keuntungan dipatok pada rasio 30% untuk NU dan 70% untuk pengelola, sebuah angka yang menurut Islah menempatkan NU hanya sebagai “sapi perah”.

Aliran Dana dan “Batu Sandungan” Politik
Islah Bahrawi tidak ragu menyebut bahwa konflik internal yang saat ini memanas di tubuh PBNU bukanlah sekadar perbedaan ideologi, melainkan benturan kepentingan materi. Ia mengungkap adanya dugaan aliran dana yang masuk ke rekening organisasi dalam jumlah signifikan.

“Uang telah masuk kurang lebih lima kali ke rekening PBNU sejak Januari 2024,” klaim Islah. Ia menambahkan bahwa gejolak “saling singkir” antar pengurus terjadi karena beberapa pihak dianggap sebagai obstacle atau batu sandungan bagi kelancaran proyek tambang ini.

Para oknum ini, yang ia sebut sebagai “Penumpang Gelap”, diduga harus mengamankan proyek tersebut untuk mempertanggungjawabkan dana yang sudah terlanjur diterima.

Ambisi Kekuasaan Menuju Pemilu 2029
Mengapa tambang menjadi begitu krusial? Menurut Islah, PBNU saat ini memiliki “Trinitas Kekuatan” yang sangat memikat untuk kontestasi politik Pemilu 2029:

  • Basis Massa: Jutaan pengikut setia di seluruh akar rumput Indonesia.
  • Daya Pikat Agama: Legitimasi moral dan spiritual dari simbol-simbol kesalihan.
  • Logistik Tambang: Modal finansial besar dari hasil bumi untuk menjadi “mesin uang” kampanye.

Membajak Jubah Kesalihan
Dengan nada getir, Islah menyampaikan kekhawatirannya akan masa depan NU yang ia sebut sebagai “Ruh Negara”.
Sebagai sosok yang lahir dari lingkungan NU—bahkan kakeknya memiliki sanad guru yang sama dengan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari—ia merasa berkewajiban untuk bersuara.

“Untuk kiai-kiai yang hanya mencari cuan, saya sudah anggap bukan kiai lagi. Mereka hanya ingin membajak jubah-jubah kesalihan,” tegas Islah. Ia menantang siapapun yang meragukan pernyataannya untuk beradu data dalam debat terbuka.

Isu konsesi tambang untuk Ormas Keagamaan memang menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi dijanjikan untuk kemandirian ekonomi umat, namun di sisi lain—seperti yang dikhawatirkan Islah Bahrawi—berpotensi menciptakan faksionalisme dan degradasi moral jika tidak dikelola dengan transparansi tinggi.

Image Slide 1