Solusiindonesia.com — Kabar duka menyelimuti keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Salah satu putra terbaik bangsa dan tokoh kunci pendidikan Islam Indonesia, Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, dikabarkan wafat pada Sabtu (3/1/2026).
Kepergian beliau meninggalkan kesedihan mendalam bagi ribuan santri, alumni, serta masyarakat luas yang selama ini menimba inspirasi dari pemikiran dan pengabdiannya.
Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. Melalui pesan singkat, beliau mengabarkan bahwa sang kakak mengembuskan napas terakhirnya di Solo.
“Inna lillah wa Inna ilayhi rajiun, telah berpulang ke Rahmatullah Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, pada jam 12.14 WIB, di RS Moewardi Solo. Semoga Allah mengampuni dosanya, menerima amal ibadahnya, dan husnul khatimah,” tulis Prof. Hamid kepada media.
Kiai Amal bukan sekadar pemimpin; beliau adalah penjaga api semangat Trimurti Gontor. Sebagai putra dari KH Imam Zarkasyi (salah satu pendiri Gontor), beliau menghabiskan seluruh hidupnya untuk melanjutkan misi pendidikan sang ayah.
Lahir dan besar di lingkungan pesantren, Kiai Amal dikenal sebagai sosok yang disiplin namun penuh kebapakan.
Perjalanan intelektualnya pun sangat cemerlang, mulai dari KMI Gontor hingga meraih gelar sarjana dan magister di bidang teologi serta filsafat Islam dari Universitas Darul Ulum, Kairo, Mesir.
Sang Arsitek Transformasi UNIDA Gontor
Dunia akademis Indonesia berhutang budi pada visi besar Prof. Amal. Beliau adalah tokoh sentral di balik transformasi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor. Di bawah arahannya, UNIDA berhasil menjadi model universitas berbasis pesantren yang diakui dunia.
Beliau konsisten menggaungkan konsep “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”, sebuah upaya untuk mengintegrasikan keilmuan modern dengan akar tradisi Islam yang kuat agar santri tidak hanya pandai secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual.
Kiprah Internasional dan Pemikiran Kritis
Sebagai pakar filsafat dan teologi Islam, pemikiran Prof. Amal melampaui batas-batas pesantren. Beliau dikenal kritis dalam menghadapi isu-isu akidah dan tantangan liberalisme.
Kontribusinya diakui secara luas, terbukti dengan peran strategisnya di:
- Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.
- Organisasi kerja sama universitas Islam internasional.
- Berbagai forum pemikiran Islam dunia.
Kini, sang pejuang pendidikan itu telah tiada. Namun, warisan ilmu, ribuan murid yang tersebar di seluruh dunia, dan institusi pendidikan yang ia bangun akan terus menjadi amal jariyah yang tak pernah terputus.
Selamat jalan, Prof. Amal. Dedikasimu bagi umat akan selalu terpatri. (Zen)








