Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Pendidikan

Komunitas Yahudi di Indonesia: Sejarah Singkat dan Pilihan Bertahan

×

Komunitas Yahudi di Indonesia: Sejarah Singkat dan Pilihan Bertahan

Sebarkan artikel ini
Rabbi Yaakov Baruch sedang berdoa di Yarussalem/Instagram @Yaakov_Baruch

Solusiindonesia.com — ​Kehadiran komunitas Yahudi di Indonesia, yang populasinya minim dan tidak menonjol, memiliki akar sejarah yang panjang, jauh sebelum masa kemerdekaan. Komunitas ini, seperti yang di Tondano, Sulawesi Utara, kini menjadi sorotan, terutama setelah munculnya tawaran untuk ‘pulang’ ke Israel.

Rabbi Yaakov Baruch Memilih Bertahan di Indonesia
​Salah satu tokoh yang sering disorot adalah Komunitas Yahudi Tondano. Belakangan, muncul tawaran dari pihak non-formal agar komunitas Yahudi Tondano “pulang” ke Israel. Namun, Rabbi Yaakov Baruch, yang mewakili komunitas tersebut, memilih untuk tetap di Indonesia.

​”Tawaran itu ada tapi tidak secara formal hanya non-formal saja,” kata Yaakov seperti dilansir CNN, seraya menambahkan bahwa keputusannya didasari keinginan untuk mengurus komunitas Yahudi yang kecil di tanah air.

​Keputusan ini muncul di tengah kabar kepindahan komunitas Yahudi Bnei Menashe dari India ke Israel.

Jejak Sejarah Yahudi di Nusantara Sejak Era Kolonial
​Kehadiran orang-orang Yahudi di kepulauan Nusantara tercatat sudah ada sejak era kolonialisme, berbarengan dengan kedatangan para pedagang rempah.

​Menurut Leonard Chrysostomos Epafras dalam jurnal Religio UGM (2012), komunitas Yahudi sudah ada sejak kedatangan bangsa Portugis di Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda. Laporan misionaris Katolik, seperti Fransiskus Xaverius pada tahun 1547, mencatat perjumpaan dengan kaum Yahudi Sefardi (dari Spanyol) beserta sinagogenya di Malaka.

​Motif utama kaum Yahudi menetap di wilayah seperti Malaka dan India adalah untuk menghindarkan diri dari Pengadilan Inkuisisi, sebuah peradilan agama Gereja Katolik yang menargetkan kaum Yahudi dan Muslim yang dipaksa dibaptis di Spanyol dan Portugis.

​Ketika Belanda datang, jumlah komunitas Yahudi terus bertambah. Bahkan, Perusahaan Dagang Hindia Belanda (VOC), yang didirikan tahun 1602, saham terbesarnya dipegang oleh Isaac Le Maire, seorang pedagang dan investor keturunan Yahudi dari Wallonia (sekarang Belgia).

​Upaya Pembentukan Komunitas Formal yang Terhambat
​Pada tahun 1857, tiga rabi, Bernstein, Ferares, dan Isaacsohn, mendukung petisi tokoh Yahudi, Israel Benjamin, untuk berangkat ke Hindia Belanda. Tujuannya adalah mendirikan komunitas Yahudi yang kokoh, seperti yang ada di Suriname.

​Namun, para rabi tersebut menyatakan kepada Kerajaan Belanda bahwa komunitas yang sudah ada di Hindia Belanda memiliki status sosial yang rendah dan tidak mampu berswadaya. Mereka mendesak Kerajaan Belanda untuk mengalokasikan dana guna survei dan pembangunan sinagoge serta pemakaman khusus.

​Meskipun mendapat dukungan, Pemerintah Belanda menolak permintaan Benjamin, dan perjalanan itu pun batal. ​Empat tahun kemudian, pada 1861, utusan rabinikal Yerusalem, Jacob Halevy Saphir, tiba di Batavia (Jakarta). Ia melaporkan keberadaan sekitar dua puluh keluarga Yahudi Ashkenazi (dari Eropa tengah dan timur) dari Belanda di Batavia, Surabaya, dan Semarang. Saphir menyatakan keprihatinan karena mereka tidak menjalankan tradisi Yahudi dan banyak yang menikah dengan wanita non-Yahudi.

Puncak Populasi dan Gerakan Zionisme
​Pada tahun 1921, penyandang dana Zionis, Israel Cohen, berkunjung ke Jawa dan menyebutkan bahwa terdapat sekitar 2.000 orang Yahudi yang menetap di Pulau Jawa saat itu.

​Pada tahun 1920-an, komunitas Yahudi mulai lebih terorganisasi dengan munculnya organisasi seperti Association for Jewish Interests in the Dutch East Indies dan cabang World Zionist Conference (WZC) di berbagai kota, termasuk Batavia, Bandung, dan Semarang. Organisasi-organisasi ini berperan dalam pengumpulan dana untuk mendukung gerakan Zionisme.

Image Slide 1