Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Peristiwa

17 Februari 2026, Sambut Ramadan dengan Gerhana Matahari Cincin Api

×

17 Februari 2026, Sambut Ramadan dengan Gerhana Matahari Cincin Api

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Gerhana Matahari Cincin Api. Foto: Freepik

Solusiindonesia.com — Dunia astronomi akan menyambut fenomena langka tepat sebelum memasuki bulan suci Ramadan 1447 H. Sebuah Gerhana Matahari Cincin Api (Annular Solar Eclipse) diprediksi akan menghiasi langit pada 17 Februari 2026, hanya sehari sebelum perkiraan awal puasa yang jatuh pada 18 Februari.

Fenomena yang sering dijuluki sebagai “Cincin Api” ini terjadi ketika Bulan melintas tepat di depan Matahari, namun tidak menutupi seluruh piringannya, sehingga menyisakan tepian cahaya yang memukau.

Berdasarkan perhitungan astronomi, Bulan akan menutupi sekitar 96% piringan Matahari pada fase puncak. Bagi masyarakat di Indonesia, peristiwa ini mencapai puncaknya pada pukul : 19.12 WIB (07.12 EST) dengan durasi Jalur membentang sepanjang 4.282 kilometer dan lebar jalur sekitar 616 kilometer.

Meskipun menyajikan visual yang spektakuler, fase “Cincin Api” sempurna kali ini cukup eksklusif. Jalur sempit annularity hanya akan melewati wilayah terpencil di Antartika. Hal ini membuat pengamat langsung di lapangan diprediksi akan sangat terbatas.

Namun, bagi penduduk di wilayah lain, fenomena ini tetap bisa dinikmati dalam bentuk Gerhana Matahari Parsial (Sebagian), meliputi sebagian besar wilayah Antartika, bagian selatan benua Afrika dan kawasan ujung selatan Amerika Selatan.

Perbedaan utama antara gerhana total dan annular terletak pada jarak orbit. Pada 17 Februari mendatang, Bulan berada pada titik yang lebih jauh dari Bumi (apogee). Akibatnya, secara visual Bulan tampak lebih kecil dan tidak mampu menutup seluruh piringan Matahari, sehingga menciptakan efek cincin cahaya di tepiannya.

Mengingat lokasi puncaknya berada di area yang sulit dijangkau, pengamat internasional—termasuk dari Indonesia—dapat memantau peristiwa ini melalui siaran langsung (live streaming). Laman Space menyebutkan bahwa akses siaran daring akan segera diumumkan oleh lembaga antariksa terkait dalam waktu dekat.

Penting untuk diingat bahwa menatap gerhana matahari secara langsung tanpa alat pelindung khusus sangat berbahaya bagi kesehatan mata.

Image Slide 1