Solusiindonesia.com — Bupati Sidoarjo, H. Subandi, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah (umara) dan tokoh agama (ulama) dalam membangun daerah. Hal ini disampaikannya saat menghadiri peringatan Haul dan Hari Lahir (Harlah) Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo tahun 2026 yang berlangsung khidmat pada Senin (10/2/2026).
Acara yang dipusatkan di kompleks pesantren tersebut dihadiri oleh jajaran Forkopimda Sidoarjo, ribuan santri, serta masyarakat umum. Momen religi ini menjadi ajang penguatan nilai spiritual sekaligus penghormatan kepada para pendiri pesantren (masyayikh).
Peringatan Harlah 2026 ini menjadi magnet bagi tokoh-tokoh besar. Selain Bupati Subandi, tampak hadir sejumlah tokoh nasional dan ulama ternama, di antaranya:
- Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jawa Timur)
- Abuya KH. Agoes Ali Masyhuri (Pengasuh Pesantren Bumi Shalawat)
- Habib Muhammad Luthfi bin Yahya
- Habib Ali Zainal Abidin Assegaf
- KH. Ali Mas’adi

Suasana semakin religius dengan iringan sholawat dari Majelis Azzahir Pekalongan, yang memandu ribuan jemaah melantunkan doa bersama untuk keberkahan bangsa.
Dalam sambutannya, Bupati H. Subandi menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi Pesantren Progresif Bumi Shalawat. Menurutnya, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan motor penggerak pembangunan karakter masyarakat di Sidoarjo.
“Pesantren memiliki peran vital sebagai pusat pendidikan karakter yang moderat, toleran, dan adaptif. Nilai-nilai adab dan cinta tanah air yang diajarkan di sini adalah pondasi menuju Sidoarjo yang harmonis dan berkeadaban,” ujar H. Subandi.
Ia juga berharap dedikasi pesantren dalam mencetak generasi berakhlakul karimah terus berlanjut guna mendukung visi Kabupaten Sidoarjo yang religius dan sejahtera.
Melalui momentum Haul dan Harlah ini, Bupati berharap hubungan harmonis antara pemerintah dan pesantren dapat menjaga kondusivitas wilayah serta mempererat ukhuwah Islamiyah.
Acara ditutup dengan doa bersama yang ditujukan untuk keselamatan dan keberkahan Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hingga akhir kegiatan, situasi terpantau tertib, aman, dan penuh kekhusyukan.






