Solusiindonesia.com — Udara dingin yang menyergap Kota Malang pada Minggu pagi, 8 Februari 2026, tak mampu memadamkan bara kerinduan di hati puluhan jemaah Majelis At-Toyyibah. Di balik kabut tipis yang menyelimuti kota, sebuah perjalanan suci bertajuk Rihlah Spiritualitas Ziarah Wali dimulai.
Ini bukan sekadar perjalanan fisik melintasi aspal Jawa Timur, melainkan sebuah pengembaraan batin untuk “mengetuk pintu langit”. Destinasinya jelas: menyusuri jejak-jejak kekasih Allah di tanah Ponorogo dan Madiun guna membasuh jiwa sebelum datangnya bulan suci Ramadhan.
Membasuh Jiwa di Kota Proklamator
Perjalanan dimulai dengan menyisir rute selatan menuju Blitar. Di sela deru mesin bus, kebersamaan dirajut melalui ritual sederhana namun sarat makna: sarapan bersama. Bagi jemaah, ini adalah momen penyatuan frekuensi sebelum memasuki “ruang tamu” para wali.
Muhammad Sofi, Ketua Panitia menekankan bahwa kesatuan hati adalah kunci keberhasilan rihlah ini.
“Agar sepanjang perjalanan kita satu niat, satu tarikan napas spiritual,” ujar pemilik MDS Dekorasi, Tenda & Floris ini.
Bagi Sofi, program unggulan akhir tahun ini merupakan ikhtiar istiqamah untuk menjaga api iman jemaah lintas generasi agar tetap menyala di tengah gempuran modernitas.

Menelusuri Jejak Sang Penjaga Wahyu: Menyelami Samudera 3 Tokoh Agung
Ziarah kali ini bukan sekadar ritual tabur bunga. Jemaah diajak menyelami sejarah para “Maestro Spiritual” yang telah membentuk wajah Islam di tanah Jawa.
- Kyai Ageng Mohammad Besari: Cahaya dari Tegalsari
Langkah pertama membawa jemaah bersimpuh di makam Mbah Hasan Besari. Beliau adalah matahari intelektual Islam yang menjadikan Tegalsari sebagai pusat peradaban masa lalu. Dari tangan dingin beliaulah lahir tokoh besar seperti pujangga Ranggawarsita. Menziarahi beliau terasa seperti menyerap energi keteguhan iman yang tak lekang oleh zaman. - Raden Bathara Katong: Sang Pemersatu Bumi Reog
Setelah dari Tegalsari, rombongan menuju makam Raden Bathara Katong (Joko Piturun). Sosok putra Prabu Brawijaya V ini adalah teladan dakwah kultural. Dengan kelembutan, beliau mengubah Ponorogo yang dulu kental nuansa mistis menjadi basis santri yang kokoh tanpa menghapus identitas lokal. - Kyai Ageng Basyariyah: Oase Sufi dari Sewulan
Perjalanan berakhir di Madiun, tepatnya di makam Kyai Ageng Basyariyah. Sebagai murid kesayangan Mbah Hasan Besari, beliau mendirikan perdikan Sewulan. Di sini, jemaah seolah menemukan muara bagi dahaga batin, menyerap ketenangan dari sosok ulama yang dikenal sangat khusyuk ini.
Lautan Zikir di Ambang Ramadhan
Di bawah bimbingan KH Muhyidin (Pengasuh Majelis Sidomukti Darussalam), suasana berubah menjadi syahdu. Lantunan tahlil dan tahmid menggema, memecah kesunyian pusara. Suara zikir yang bergetar di udara seolah menjadi jembatan ruhaniah antara dunia fana dan alam keabadian.
Ustadz Arif Setiawan SH.I (Gus Arif), Khodim Majelis At-Toyyibah, menjelaskan esensi mendalam dari perjalanan ini:
“Ziarah adalah implementasi mencari barokah. Kita menyambungkan ‘kabel’ ruhaniah kita dengan para kekasih Allah agar semangat perjuangan mereka mengalir ke dalam nadi kehidupan kita sehari-hari.”
Oase Menuju Bulan Suci: Menyiapkan Bejana Hati
Memilih bulan Sya’ban sebagai waktu pelaksanaan adalah sebuah “strategi langit”. Di tengah hiruk-pikuk dunia, perjalanan ini menjadi oase untuk membersihkan debu-debu yang menempel di hati.
Dengan batin yang telah “dibasuh” doa dan raga yang telah berdialog dengan sejarah, para jemaah kini siap menyambut Ramadhan. Mereka pulang tidak hanya membawa kenangan, tapi membawa jiwa yang lebih bening.
Tepat pukul 03:00 dini hari, rombongan kembali menginjakkan kaki di Kota Malang. Wajah-wajah lelah itu tampak bersinar oleh kepuasan batin. Mereka telah pulang dari “perjamuan” bersama para kekasih Allah di Bumi Reog, siap menatap Ramadhan demi merengkuh rida Allah SWT dan syafaat Baginda Nabi Muhammad SAW.







