Solusiindonesia.com — Tantangan ekonomi Indonesia pada 2026 dinilai lebih banyak bersumber dari faktor domestik dibandingkan tekanan global. Hal ini tercermin dari pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang memetakan tiga tantangan utama perekonomian nasional, yakni iklim investasi, sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter, serta dinamika ekonomi global.
Purbaya menempatkan faktor global di urutan ketiga. Menurutnya, sebagian besar penggerak ekonomi Indonesia berasal dari dalam negeri, sementara gejolak global berada di luar kendali pemerintah.
Dalam forum KompasTV Bisnis Economic Outlook 2026 bertema “Nyalakan Mesin Pertumbuhan Baru” di Menara Kompas, Selasa (16/12/2025)
Pernyataan tersebut menegaskan arah kebijakan pemerintah yang ingin lebih fokus memperkuat fondasi ekonomi domestik. Ketidakpastian global, seperti konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia, dipandang sebagai risiko yang bersifat rutin dan tidak bisa dijadikan alasan untuk menahan langkah pertumbuhan.
Purbaya juga mengingatkan bahwa sikap terlalu defensif terhadap tekanan eksternal justru berpotensi mempersempit ruang gerak ekonomi nasional. Karena itu, penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter dinilai menjadi agenda penting untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong aktivitas ekonomi.
Selain kebijakan makro, perhatian juga diarahkan pada perlindungan pasar domestik.
Penekanan Purbaya terhadap pentingnya mencegah masuknya barang asing ilegal agar pasar dalam negeri tetap didominasi oleh pelaku usaha nasional. Langkah ini dinilai relevan untuk menjaga daya saing industri lokal dan memperkuat ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Dengan menitikberatkan pada kekuatan domestik, pemerintah berupaya menyalakan kembali mesin pertumbuhan ekonomi nasional menuju 2026, sambil tetap mewaspadai dinamika global yang terus berkembang.








