Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Daerah

Banjir dan Longsor Meluas di Aceh, BPBA Catat Hampir 47 Ribu Warga Terdampak

×

Banjir dan Longsor Meluas di Aceh, BPBA Catat Hampir 47 Ribu Warga Terdampak

Sebarkan artikel ini
Banjir di Lhokseumawe, Aceh / foto: tangkapan layar

Solusiindonesia.com — Banjir bandang dan longsor kembali melanda sejumlah wilayah di Aceh sejak 18 November hingga 26 November 2025, dipicu curah hujan tinggi, angin kencang, dan kondisi geologi yang labil.

Air dari kawasan dataran tinggi Beutong Ateuh, Nagan Raya, Aceh Tengah, dan Bener Meriah mengalir deras hingga pesisir, menyebabkan kawasan terdampak meluas dengan kondisi listrik padam dan jaringan komunikasi terputus.

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat bencana ini berdampak pada 14.235 KK/46.893 jiwa, sementara 1.497 warga mengungsi dari 9 kabupaten/kota:

  • Bireuen
  • Lhokseumawe
  • Aceh Timur
  • Langsa
  • Bener Meriah
  • Gayo Lues
  • Aceh Singkil
  • Aceh Utara
  • Aceh Selatan.

Sejumlah jalur darat menuju pantai barat, pantai timur, dan jalur tengah Aceh juga dilaporkan lumpuh akibat banjir dan longsor.

Di Kabupaten Bireuen, banjir meluas setelah hujan intensitas tinggi memicu luapan drainase pada Minggu (23/11), sementara Kota Lhokseumawe mengalami banjir dan longsor beruntun setelah hujan tanpa henti sejak 20 November.

Aceh Timur juga menghadapi banjir dan angin kencang di sejumlah wilayah, disusul Kota Langsa yang terdampak air kiriman dari area perkebunan sawit.

Kondisi tak kalah parah terjadi di Kabupaten Bener Meriah dan Gayo Lues, di mana hujan lebat memicu longsor dan banjir di banyak kecamatan. Di Aceh Singkil, luapan Sungai Lae Cinedang merendam permukiman dengan ketinggian air mencapai 50–80 cm.

Sementara di Aceh Utara, banjir meluas akibat erosi tebing sungai dan hujan berhari-hari, sedangkan Aceh Selatan melaporkan banjir yang mulai berangsur surut.

BPBA melaporkan bahwa bencana kali ini menjadi salah satu yang terluas dalam beberapa tahun terakhir.

Seorang warga, Zamzami (41), menjelaskan bahwa akses dari Banda Aceh menuju pantai barat dan pantai timur sepenuhnya terputus.

“Sampai pagi ini belum bisa dilewati kendaraan,” ujarnya.

Hingga kini, sembilan wilayah telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi, termasuk Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Singkil, Aceh Tengah, dan Aceh Barat.

Pemerintah daerah diminta mengaktifkan posko darurat, melakukan evakuasi, menyiapkan logistik, memastikan layanan kesehatan darurat, serta melakukan kaji cepat di wilayah terdampak.

BPBA mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama di wilayah lereng dan bantaran sungai. Pembersihan saluran air, peningkatan kesiapsiagaan, serta pemantauan informasi resmi dari BMKG dan BPBD disebut sebagai langkah penting untuk mengurangi risiko bencana susulan.

Image Slide 1